BRIEF.ID – Saham-saham di bursa Wall Street merosot tajam pada penutupan perdagangan Rabu (18/3/2026). Dilaporkan, bursa mengalami tekanan besar akibat kebijakan The Fed yang tidak menurunkan suku bunga, inflasi yang masih tinggi, lonjakan harga minyak dunia, serta konflik geopolitik di Timur Tengah.
Selain itu, Kepala Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengimbau otoritas Wall Street mencari peluang yang lebih kecil untuk mendapatkan suku bunga yang lebih rendah seperti yang diharapkan.
Indeks S&P 500 turun 1,4% dan berbalik merugi untuk minggu ini. Dow Jones Industrial Average turun 768 poin, atau 1,6%, dan indeks komposit Nasdaq merosot 1,5%.
Kerugian semakin dalam setelah The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga tetap stabil sehingga dapat menggerakkan pasar kerja dan ekonomi. Para pejabat The Fed memperkirakan satu pemotongan lagi, pada akhir tahun 2026, tetapi Jerome Powell menyarankan proyeksi itu kemungkinan kurang berharga dari biasanya karena banyaknya ketidakpastian yang ada terkait inflasi dan ekonomi.
“Kita belum tahu pasti,” kata Powell tentang apa yang akan terjadi dengan harga minyak, serta berapa lama tarif Presiden AS Donald Trump akan sepenuhnya berdampak pada sistem.
Harga satu barel minyak mentah Brent mengalami lonjakan cukup signifikan dari sekitar US$ 70 per barel sebelum perang menjadi US$ 107,38 pada hari Rabu (18/3/2026), naik 3,8% dari hari sebelumnya. Harga satu barel minyak mentah acuan AS mencapai hampir US$ 99 sebelum stabil di angka US$ 96,32.
Harga minyak melonjak karena perang telah mengganggu industri energi di Teluk Persia. Televisi pemerintah Iran melaporkan pada Rabu (18/3/2026) bahwa negara itu akan menyerang infrastruktur minyak dan gas di Qatar, Arab Saudi, dan Persatuan Emirat Arab setelah serangan terhadap fasilitas yang terkait dengan ladang gas alam di lepas pantai South Pars.
Jika gangguan tersebut membuat harga minyak dan gas tetap tinggi dalam waktu lama, hal itu dapat menciptakan gelombang inflasi yang melemahkan ekonomi global. (Associated Press/nov)


