Goldman Sachs Naikkan Prediksi Harga Emas Dunia Tembus US$5.400 per Troy Ounce Akhir 2026

BRIEF.ID – Lembaga Investasi dan Keuangan Internasional, Goldman Sachs, menaikkan prediksi harga emas dunia menembus US$5.400 per troy ounce pada akhir Tahun 2026.

Sebelumnya, Goldman Sachs memprediksi harga emas dunia bisa menembus US$4.900 per troy ounce pada akhir tahun ini, namun kemudian merevisinya dengan kenaikan sebesar US$500 menjadi US$5.400 per troy ounce.

Seperti dilansir Reuters, Goldman Sachs mengubah prediksi harga emas dunia, karena melihat tren kenaikan harga emas yang terus berlanjut, seiring diversifikasi sektor swasta dan bank sentral ke logam mulia, terutama emas.

Hal itu, terutama dilakukan bank sentral dari negara-negara berkembang (emerging market) sejak awal tahun ini, sehingga lonjakan harga emas terjadi secara signifikan dan lebih cepat dari perkiraan.

Sepanjang Tahun 2026, harga emas dunia di pasar spot telah melonjak sebesar 11%. Pada perdagangan Rabu (21/1/2026), harga emas dunia di pasar spot bahkan sempat mencetak rekor dengan menyentuh harga tertinggi di level US$4.887,82 per troy ounce.

“Kami berasumsi bahwa pembeli diversifikasi sektor swasta, yang pembeliannya melindungi risiko kebijakan global dan telah mendorong kejutan positif pada perkiraan harga kami, tidak akan melikuidasi kepemilikan emas mereka pada tahun 2026, yang secara efektif menaikkan titik awal perkiraan harga kami,” demikian riset Goldman Sachs, seperti dikutip Reuters, pada Kamis (22/1/2026).

Goldman Sachs memperkirakan kepemilikan ETF Barat akan meningkat karena Federal Reserve AS kemungkinan akan memangkas suku bunga dana sebesar 50 basis poin pada tahun 2026.

Perusahaan investasi tersebut, juga memperkirakan pembelian bank sentral rata-rata 60 ton pada tahun 2026, karena bank sentral pasar negara berkembang kemungkinan akan terus melakukan diversifikasi cadangan mereka ke dalam emas.

“Penurunan tajam dalam persepsi risiko seputar jalur kebijakan moneter global jangka panjang akan menimbulkan risiko penurunan harga emas jika hal itu menyebabkan likuidasi lindung nilai kebijakan makro,” bunyi riset Goldman Sachs. (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Investor Global Antusias Kunjungi Indonesia Pavilion di WEF Davos 2026

BRIEF.ID - Investor global antusias mengunjungi Indonesia Pavilion di...

Kasus Kuota Haji, KPK Panggil Mantan Menpora Dito Ariotedjo

BRIEF.ID - Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito...

IMF Sebut Perekonomian Indonesia Tumbuh 5,1% pada Tahun 2026

BRIEF.ID - Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan, perekonomian Indonesia...

BI Suntik Likuiditas Perbankan Senilai Rp397,9 Triliun, Hampir Dua Kali Lipat Dana Pemerintah

BRIEF.ID — Bank Indonesia (BI) melaporkan telah menyuntikan likuiditas...