BRIEF.ID – Indeks di Wall Street ditutup mixed cenderung melemah, pada perdagangan Rabu (11/3/2026). Sebagian besar saham ditutup lebih rendah dipicu konflik Iran yang terus berlangsung tanpa ada tanda-tanda kapan akan berakhir.
Kenaikan pendapatan Oracle setelah pengumuman laba dan angka inflasi konsumen AS, yang sesuai perkiraan tidak banyak berpengaruh untuk mengangkat sentimen pasar.
Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan akan menyediakan 400 juta barel minyak ke pasar, yang merupakan pelepasan cadangan darurat terbesar yang pernah ada untuk mengatasi dampak perang Iran terhadap harga minyak.
Angka ini melampaui 182 juta barel minyak yang disediakan oleh negara-negara anggota IEA setelah invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Namun, sebagian besar investor telah memperhitungkan berita itu, dan kenaikan harga minyak menunjukkan sedikit reaksi terhadap pengumuman IEA.
Presiden AS Donald Trump mengancam akan meningkatkan serangan AS terhadap Iran setelah laporan menyebutkan bahwa Iran telah memasang ranjau laut di Selat Hormuz, dalam beberapa hari terakhir.
Sementara itu, data inflasi AS sebesar 0,3% MoM dan 2,4% YoY di Februari 2026, sesuai perkiraan. Inflasi inti sebesar 0,2% MoM dan 2,5% YoY, juga sesuai konsensus. Namun data inflasi Februari belum memperhitungkan kenaikan harga minyak mentah akibat konflik di AS-Iran.
Harga minyak mentah WTI naik 4,55% ke level US$ 87,25/barel, pada Rabu (11/3/2026). Imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun naik lebih dari 8 bps ke level 4,222%. Harga emas spot melemah 0,3% di level US$ 5.177 per troy ons.
Harga emas tertekan oleh penguatan Dolar AS dan kekhawatiran inflasi yang membayangi serta meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga. (nov)


