BRIEF.ID – Defisit anggaran Republik Indonesia (RI) yang memprihatinkan di triwulan I 2026 membuat nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpuruk hingga makin mendekati level psikologis Rp17.100.
Pada awal perdagangan hari ini, Selasa (7/4/2026), kurs rupiah di pasar spot dibuka melemah 0,07% di level Rp17.050 per dolar AS. Hingga pukul 11:00 WIB, pelemahan rupiah berlanjut bahkan menyentuh level Rp17.082 per dolar AS.
Ketidakpastian kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran, masih menjadi sentimen negatif yang membuat investor cenderung menarik modal dari pasar keuangan emerging market termasuk Indonesia.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah hari ini, lebih dipengaruhi kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal RI, yang diumumkan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, pada Senin (6/4/2026).
Selama triwulan I 2026, defisit anggaran RI sudah mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Tahun 2026 yang sebesar Rp25.800 triliun.
Menurut Purbaya, kenaikan defisit anggaran pada tiga bulan pertama tahun ini, merupakan bagian dari strategi fiskal untuk mempercepat stimulus di tengah ketidakpastian global.
Selanjutnya, stimulus akan melandai untuk menjaga supaya defisit anggaran tahun ini hanya 2,9% dari PDB atau sekitar 748,2 triliun rupiah. Dengan demikian, dalam sembilan bulan mendatang, defisit anggaran tidak boleh lebih dari Rp508,1 triliun, atau tidak boleh lebih dari Rp56,455 triliun per bulan.
Dengan kondisi harga minyak mentah Brent yang telah melampaui US$100 per dolar AS, sementara asumsi harga minyak dalam APBN 2026 hanya sebesar US$70 per barrel, investor mencemaskan defisit fiskal RI dalam sembilan bulan ke depan.
Hal itu, membuat tekanan terhadap rupiah terus berlanjut, bahkan mendekati level psikologis Rp17.100 pada perdagangan hari ini. Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi melemah terbatas di kisaran level Rp17.000 per dolar AS hingga Rp17.100 per dolar AS. (jea)


