BRIEF.ID – Indeks di bursa Wall Street ditutup menguat terbatas pada perdagangan Selasa (17/2/2026). Tiga indeks utama sempat bergerak dua arah karena investor mencari arah setelah libur panjang akhir pekan.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 32,26 poin atau 0,07% menjadi 49.533,19, S&P 500 naik 7,05 poin atau 0,10% ke 6.843,22, dan Nasdaq Composite naik 31,71 poin atau 0,14% ke 22.578,38.
Setelah sempat turun hingga 1,5% di titik terendah sesi, sektor teknologi informasi S&P 500 menghapus penurunan dan ditutup naik 0,5% setelah kenaikan harga saham Nvidia dan Apple menutup pelemahan Microsoft dan Oracle.
Pada Senin (16/2/2026) bursa AS tutup karena libur President’s Day. Kekhawatiran tentang gangguan sektor AI di sektor teknologi tetap menjadi fokus pasar.
Investor berputar di sekitar dampak model AI baru pada berbagai industri. Kekhawatiran juga berpusat pada apakah pengeluaran besar yang berkelanjutan untuk infrastruktur AI akan menghasilkan keuntungan substansial bagi saham-saham sektor teknologi berkapitalisasi besar. Investor melakukan rotasi sektor dari saham software ke saham perbankan.
Data inflasi CPI AS yang dirilis pada Jumat (13/2/2026) lebih rendah dari perkiraan, menyusul data tenaga kerja yang lebih baik dari perkiraan. Investor akan mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai inflasi dari indeks PCE Prices yang akan dirilis Jumat (20/2/2026).
Sebelumnya investor akan memantau risalah hasil pertemuan the Fed pada Rabu (18/2/2026). Mata uang poundsterling melemah dan imbal hasil obligasi pemerintah Inggris turun pada Selasa (17/2/2026) setelah data menunjukkan tingkat pengangguran Inggris naik ke level tertinggi dalam lima tahun terakhir, sementara pertumbuhan upah melambat.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik kurang dari 1 bps ke level 4,058%, menantikan data ekonomi AS. Harga emas turun lebih dari 2% di level US$ 4.865 per troy ons di pasar spot Selasa (17/2/2026).
Harga minyak mentah melemah setelah diberitakan kemajuan telah dicapai selama pembicaraan nuklir AS-Iran, yang memicu harapan bahwa negosiasi dapat mencegah konflik lain di Timur Tengah. (nov)


