BRIEF.ID – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencetak laba bersih Rp15,5 triliun pada kuartal I 2026. Jumlah tersebut, naik 13,7% secara tahunan atau year on year (yoy), dan mencapai 27% dari target laba bersih BRTI di tahun ini.
“Kinerja positif ini didorong oleh pertumbuhan pinjaman yang kuat, terutama di sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), seiring komitmen kami mendorong ekonomi kerakyatan,” kata Direktur Utama (Dirut) BRI, Hery Gunardi, di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Adapun total kredit dan pembiayaan BRI sepanjang kuartal I 2026 tercatat mencapai Rp1.562 triliun, tumbuh 13,7% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Selain pertumbuhan pinjaman, BRI juga mencapai kinerja positif pada dana pihak ketiga (DPK), yang mencapai Rp1.555 triliun pada kuartal I 2026, naik 9,4% yoy.
Rasio keuangan perseroan juga solid, dengan loan to deposit ratio (LDR) mencapai 87,7%, sedangkan capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 22,9%.
“Dengan kinerja positif di berbagai lini bisnis, total Aset BRI hingga kuartal I 2026 tercatat sebesar Rp2.250 triliun, tumbuh 7,2% dibandingkan kuartal I 2025,” ujar Hery.
Dia mengungkapkan, transformasi digital turut mendukung kinerja positif BRI, dengan volume transaksi yang tumbuh signifikan, terutama pada QRIS BRI.
Supper Apps BRImo mencatat nilai transaksi sebesar Rp2.042,2 triliun, dengan volume transaksi tumbuh 29,4% (yoy). Jumlah penggunanya pun mencapai 47,8 juta, meningkat 18,6% (yoy).
Aplikasi QLola by BRI juga mencatat nilai transaksi Rp4.462 triliun, dengan volume transaksi tumbuh 53,5% (yoy), dengan pengguna mencapai 320.400, naik 33,1% (yoy). Jumlah merchant BRI juga meningkat menjadi 323,700, dengan nilai transaksi mencapai Rp67,9 triliun, dan volume transaksi meningkat sebesar 26,5% (yoy).
Sementara QRIS BRI mencatat pertumbuhan signifikan dengan nilai transaksi mencapai Rp30,5 triliun, volume transaksi tumbuh 76% (yoy), dan jumlah transaksi lebih dari 253 miliar, naik 86,7% (yoy).
Program Prioritas Pemerintah
Hery mengungkapkan, BRI juga terus berkomitmen mendukung program prioritas pemerintah, melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Hingga kuartal I 2026, jumlah KUR yang disalurkan BRI tercatat mencapai Rp47,09 triliun, dengan 947.000 nasabah. Sedangkan FLPP yang disalurkan mencapai Rp17,13 triliun untuk lebih dari 125.000 nasabah.
“Selain itu, BRI juga berperan aktif mendukung program prioritas pemerintah lainnya, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta menyalurkan berbagai bantuan sosial non tunai seperti PKH, sembako, sembako stimulus, dan BLTS Kesra,” tutur Hery.
Terkait dengan pelemahan harga saham BRI (kode: BBRI) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Hery menyampaikan, hal itu bukan sisebabkan faktor fundamental perseroan, tetapi lebih didorong faktor makro, seperti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pada hari ini, harga saham BBRI di BEI mengalami penurunan sebesar 1,95% arau Rp60 menjadi Rp3.010 per lembar. Analis memperkirakan dengan fundamental perseroan yang kuat, serta kinerja positif di kuartal I 2026, harga saham BBRI saat ini diperdagangkan pada 1,4x P/B (price book atau harga buku). Potensi beli sangat tinggi dengan target harga IDR4.500. (jea)


