BRIEF.ID – Bank Indonesia (BI) berkomitmen menjaga stabilitas rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar offshore (luar negeri) selama libur Hari Raya Nyepi dan Lebaran Tahun 2026.
Pada perdagangan sesi pagi ini, Kamis (19/3/2026), nilai kontrak rupiah terhadap dolar AS di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka di level Rp17.026 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah offshore ditutup melemah 0,32% di level Rp17.029 per dolar AS.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan kendati pasar keuangan domestik tutup selama libur Nyepi dan Lebaran, perdagangan rupiah di pasar luar negeri tetap berjalan.
Itu sebabnya, BI tetap memantau pergerakan rupiah di pasar offshore, dan siap melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas mata uang garuda, agar tidak berdampak negatif pada ekonomi nasional.
“Perdagangan rupiah di pasar luar negeri tetap berjalan dan fluktuasinya dapat berdampak pada ekonomi Indonesia,” kata Destry lewat keterangan rersmi, Kamis (19/3/2026).
Menurut dia, pergerakan rupiah di pasar NDF cenderung melemah karena tekanan lonjakan harga minyak dunia, dan keputusan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga acuan.
Pada sesi pagi perdagangan hari ini,mMinyak Brent sempat melonjak hingga US$111,75 per barel, kemudian melandai ke level US$107,38 per barel.
Sementara The Fed pada Rabu (18/3/2026) atau dini hari WIB, mengumumkan tetap mempertahakankan tingkat suku bunga acuan di level 3,50%-3,75%.
Destry mengungkapkan, BI mengoptimalkan sejumlah instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, yang telah mengganggu pasokan minyak dunia dan menimbulkan risiko lonjakan inflasi.
Dia menjelaskan, kenaikan harga energi dalam jangka pendek tak terhindarkan seiring lonjakan harga minyak dunia. Hal ini, akan mendorong kenaikan inflasi secara keseluruhan, dan berdampak pada perekonomian nasional.
“BI akan menempuh langkah-langkah penyesuaian yang diperlukan guna tetap konsisten dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional dari dampak konflik geopolitik di Timur Tengah,” tutur Destri. (jea)


