BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan melanjutkan penguatan untuk menembus level psikologis 9.000, pada perdagangan Rabu (7/1/2026) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
IHSG ditutup menguat di level 8.933,61 atau 0,84% pada perdagangan Selasa (6/1/2026), setelah sempat mencapai level intraday tertinggi baru di 8.940.
Berdasarkan laporan Phintraco Sekuritas yang dirilis Rabu (7/1/2026) saham-saham yang diunggulkan pada perdagangan di BEI, di antaranya BBRI, EMTK, SRTG, BBTN, dan INDY.
Saham basic materials masih memimpin penguatan indeks. Berlanjutnya penguatan pada mayoritas harga komoditas logam dan adanya beberapa insentif dari pemerintah menjadi faktor positif pada pergerakan indeks.
Di sisi lain, Rupiah berlanjut ditutup melemah di pasar spot pada level Rp16.740 per dolar AS. Secara teknikal, histogram positif MACD berlanjut menguat seiring dengan kenaikan volume beli. Stochastic RSI juga berlanjut menguat menuju area overbought. Sehingga diperkirakan IHSG berpeluang menguji level psikologis di 9.000, namun rentan minor pullback dalam jangka pendek karena profit taking.
Pemerintah berlanjut memberikan beberapa insentif untuk mendorong daya beli masyarakat sehingga diharapkan dapat memicu akselerasi pertumbuhan ekonomi.
Melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 105 Tahun 2025, pemerintah memberi insentif pembebasan PPH 21 selama tahun 2026 untuk karyawan dengan gaji di bawah Rp 10 juta per bulan yang bergerak di sektor industri alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, industri kulit dan turunannya, serta pariwisata.
Sedangkan berdasarkan PMK 90/2025, pemerintah menetapkan PPN ditanggung pemerintah sebesar 100% untuk harga jual rumah sampai dengan Rp 2 miliar untuk rumah tapak dan Rp 5 miliar untuk rumah susun selama tahun 2026. Pemerintah juga sedang mengkaji aturan insentif untuk industri otomotif.
Selain mencermati perkembangan geopolitik global, investor menantikan sejumlah data ekonomi yang akan dirilis dari Eropa dan Amerika Serikat (AS), pada Rabu (7/1/2026). Dari Jerman diberitakan akan dirilis dari retail sales dan pasar tenaga kerja, sedangkan dari Euro Area akan dirilis data inflasi. Investor akan mencermati indeks ISM Services dan JOLTS Job Openings dari AS. (nov)


