BRIEF.ID – Indeks di bursa Wall Street, New York, Amerika Serikat (AS) kembali bergeliat setelah ditutup menguat, pada perdagangan Rabu (1/4/20266). Harapan terjadinya de-eskalasi di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor pemicu penguatan indeks.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran menghendaki gencatan senjata. Tuntutan Iran, kata Trump, akan dipertimbangkan jika Selat Hormuz, yang menjadi jalur perlintasan 20% minyak dunia dibuka kembali.
Jika harapan Trump dikonfirmasi oleh Iran, hal ini akan menandai langkah signifikan lainnya menuju de-eskalasi, meskipun masih diselimuti ketidakpastian seputar pembukaan Selat Hormuz.
Sebelumnya, Trump mengatakan terbuka untuk meninggalkan perang bahkan jika Selat Hormuz sebagian besar tetap terblokir untuk lalu lintas kapal tanker. Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyatakan akan mengakhiri perang jika diberikan jaminan keamanan.
Perkembangan terakhir ini menjadi sentimen positif bagi indeks bursa global. Namun, diperkirakan investor mungkin belum memperhitungkan kerusakan ekonomi yang telah terjadi. Infrastruktur energi di sekitar Teluk telah rusak.
Produksi telah dihentikan, sehingga akan membutuhkan waktu untuk dimulai kembali, serta Selat Hormuz masih tertutup. Sementara itu, Gedung Putih menyatakan bahwa Trump akan menyampaikan pidato nasional untuk memberikan pembaruan penting tentang Iran, pada Rabu (1/4/2026) pukul 9 malam waktu AS, atau Kamis pagi pukul 08.00 WIB (2/4/2026).
Harga minyak mentah melanjutkan koreksi, pada Rabu (2/4/2026), seiring harapan adanya de-eskalasi. Harga minyak mentah sempat di bawah level US$ 100 per barel, namun ditutup di atas level itu, pada Rabu (1/4/2026). Imbal hasil Pemerintah AS tenor 10 tahun naik 2 bps ke level 4,332%. Harga emas spot menguat 2.5% di level US$ 4.784 per troy ons. (nov)


