Bakal Diwarnai Aksi Profit Taking, IHSG Diperkirakan Melanjutkan Koreksi

BRIEF.ID – Defisit Anggaran dan Pendapatan Negara (APBN) 2025 yang lebih besar dari target ditambah  meningkatnya ketidakpastian geopolitik global,  diperkirakan akan menjadi faktor penyebab sulitnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk bergerak naik.

Selain itu, aksi profit taking akan mewarnai lantai bursa sehingga IHSG diperkirakan melanjutkan koreksi pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (9/1/2026).

IHSG ditutup melemah di level 8.925,47  atau turun 0,22% pada perdagangan Kamis (8/1/2026), setelah sempat menembus level psikologis 9.000. Sektor basic material mencatat koreksi terbesar akibat profit taking. Sebaliknya, sektor transportasi rebound sehingga membukukan penguatan terbesar.

Rupiah berlanjut melemah pada level Rp16.785 per dolar AS di pasar spot, yang didorong oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik global serta defisit APBN 2025 yang lebih besar dari target.

Laporan Phintraco Sekuritas yang dirilis, Jumat (9/1/2026) menyebutkan, secara teknikal, indikator Stochastic RSI IHSG berada di area overbought dan berpotensi membentuk Death Cross.

Selain itu, IHSG membentuk pola Shooting Star yang mengindikasikan potensi pembalikan arah setelah reli selama beberapa hari terakhir dan mencapai level tertinggi baru.

“Diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan koreksi teknikal menguji level 8.850-8.900,” demikian dikutip dari laporan itu.

Saham-saham yang diunggulkan pada perdagangan hari ini, di antaranya UNVR, ACES, SMDR, BKSL, dan SIDO. Saat ini, investor  menantikan data consumer confidence dan penjualan otomotif yang akan dirilis, pada Jumat (9/1/2026). 

Sementara itu, defisit APBN mencapai Rp 695,1 triliun per Desember 2025 atau setara 2,92% dari produk domestik bruto (PDB) atau lebih tinggi dari defisit tahun 2024 yang sebesar 2,3% dari PDB dan melampaui target defisit APBN 2025 yang sebesar 2,53% dari PDB.

Keseimbangan primer APBN juga mencatatkan defisit Rp 180,7 triliun. Realisasi penerimaan negara mencapai 91,7% dari target dan realisasi belanja negara sebesar 96,3% dari anggaran.

Data cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$ 156,5 miliar pada Desember 2025 dari US$ 150,1 miliar di November 2025. Kenaikan ini terutama didorong oleh penerimaan pajak dan jasa, penerbitan sukuk global oleh pemerintah, serta penarikan pinjaman luar negeri. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Penempatan Dana Pemerintah Rp200 Triliun di Himbara Diperpanjang Sampai September 2026

BRIEF.ID - Penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di...

BEI Evaluasi Kebijakan Penerapan FCA  

BRIEF.ID – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan evaluasi...

Pembatalan Tarif dan Persetujuan MSCI, Dongkrak Kenaikan IHSG dan Rupiah  

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat...

Hingga 31 Januari 2026, Pemerintah Tarik Utang Rp 127,3 Triliun

BRIEF.ID – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyatakan,...