BRIEF.ID – Reli emas yang cepat justru menjadi pertanda bahaya, karena mengindikasikan ekonomi dan nilai mata uang termasuk dolar Amerika Serikat (AS) melemah.
Pernyataan itu, disampaikan investor miliarder, Ray Dalio, yang sekaligus pendiri Bridgewater Associates dalam asumsi ekonomi Tahun 2026, seperti dikutip Business Insider, Rabu (7/1/2026).
Menurut Dalio, reli emas yang cepat merupakan peringatan bagi investor dan para pengambil kebijakan untuk mewaspadai kondisi ekonomi dan pasar keuangan.
Kenaikan harga emas yang cepat mencerminkan melemahnya ekonomi dan mata uang nasional. Karena alasan itu, Dalio melihat ada dampak berkelanjutan dari penguatan harga emas terhadap pelemahan mata uang, yang harus diwasapadai, terutama oleh AS.
Dia mengungkapkan, sinyal pelemahan ekonomi dan mata uang tersebut, kemungkinan diabaikan oleh investor dan pemangku kebijakan, karena di satu sisi ada lonjakan besar pasar saham.
“Tetapi saya ingin menegaskan bahwa reli emas yang cepat adalah alasan untuk menilai kembali gambaran makro dan mengambil posisi yang lebih hati-hati,” kata Dalio.
Alarm
Ray Dalio menghabiskan tahun 2025 dengan membunyikan alarm, untuk mendesak kehati-hatian dari apa yang dilihatnya sebagai krisis utang global yang sedang berkembang dan penurunan nilai mata uang fiat.
Menurut dia, lonjakan harga emas dunia pada 2025, yang merupakan kenaikan terbesar sejak Tahun 1979, mengandung peringatan bagi investor terkait dengan penurunan nilai uang fiat.
Pada 2025, gabungan kuat antara pembelian oleh bank sentral, kekhawatiran geopolitik, dan selera dari individu mendorong harga emas dunia melonjak ke rekor tertinggi sepanjang tahun.
Dalio berpendapat bahwa reli emas terutama merupakan hasil dari uang fiat yang kehilangan nilai riil. “Inilah kisah terbesar di pasar pada tahun 2025,” ungkapnya.
Dia memaparkan, emas menjadi instrumen investasi utama terbaik pada Tahun 2025 dengan keuntungan 65% dalam dolar AS, mengungguli indeks S&P dengan keuntungan 18% dalam dolar AS.
“Jadi ada selisih keuntungan antara emas dan indeks S&P sebesar 47% dalam dolar AS, atau dengan kata lain S&P turun 28% dalam nilai uang emas,” tutur Dalio.
Terkait dengan itu, Dalio mendesak para investor untuk mempertimbangkan beberapa faktor kunci ketika mengevaluasi kekuatan yang mendorong pasar pada tahun 2025.
Menyesatkan
Secara khusus, dia menyoroti bahwa membuat perhitungan investasi dalam mata uang yang terdepresiasi dapat menyesatkan, karena dapat membuat pengembalian tampak lebih kuat daripada yang sebenarnya.
Dari perspektif Dalio, kinerja pasar saham tahun 2025 sangat bervariasi berdasarkan tolok ukur yang digunakan. Ketika mata uang turun, hal itu membuat seolah-olah hal-hal yang diukur dengannya naik.
“Dalam hal ini, indeks S&P menghasilkan pengembalian 18% untuk investor berbasis dolar, 17% untuk investor berbasis yen, 13% untuk investor berbasis renminbi, 4% untuk investor berbasis euro, dan hanya 3% untuk investor berbasis franc Swiss, serta untuk investor berbasis emas menghasilkan pengembalian -28%,” kata Dalio.
Presiden Donald Trump telah menggembar-gemborkan manfaat ekonomi dari melemahnya dolar AS, mencoba membingkainya sebagai hal yang menguntungkan bagi ekspor AS.
Meski demikian, beberapa lembaga ekonomi seperti Cato Institute telah membantah perspektif ini, mengklaim bahwa hal itu mengabaikan efek limpahan negatif bagi konsumen AS.
Dalio tampaknya memiliki pola pikir yang sama dengan Cato Institute. Menurutnya, mata uang yang lebih lemah cenderung menurunkan biaya barang ekspor suatu negara bagi pembeli internasional sementara meningkatkan harga impor domestik.
“Ketika mata uang suatu negara melemah, itu mengurangi kekayaan dan daya beli masyarakat, itu membuat barang dan jasa lebih murah dalam mata uang lain, dan itu membuat barang dan jasa negara lain lebih mahal dalam mata uang sendiri,” ujar Dalio.
Dia menambahkan, saham dan emas diuntungkan dari pelonggaran kebijakan moneter pada tahun 2025, tetapi karena kedua aset tersebut tidak lagi murah, justru berisiko mengalami penurunan jika kondisi berubah lagi. (jea)


