BRIEF.ID – Sebuah torpedo yang ditembakkan kapal selam Amerika Serikat (AS) menenggelamkan kapal perang Iran, yang berada di lepas pantai selatan Sri Lanka. Penembakan ini sebagai wujud nyata dari ancaman pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk menghancurkan kepemimpinan militer dan politik Teheran.
Sedikitnya 87 pelaut Iran tewas dalam serangan terhadap kapal fregat Iris Dena, pada hari Rabu (4/3/2026). Kapal fregat itu sedang berlayar di perairan internasional saat kembali dari latihan angkatan laut yang diselenggarakan oleh India di Teluk Bengal.
Serangan torpedo itu juga memicu pertanyaan dari mantan pejabat AS tentang apakah tujuan Washington untuk melenyapkan seluruh militer Iran, sebab tindakan itu dinilai melanggar hukum internasional.
Insiden tersebut terjadi ketika serangan udara AS-Israel terhadap Iran berlanjut untuk hari kelima, dengan para pejabat Washington memperingatkan bahwa serangan akan segera menghantam target yang “lebih dalam” di Iran.
Pasukan AS juga menargetkan milisi pro-Iran di Irak, sementara Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan akan melanjutkan serangan rudal dan drone terhadap target di seluruh Timur Tengah.
Pete Hegseth, mantan pembawa acara Fox News yang kini memimpin Pentagon sebagai Menteri Pertahanan, mengkonfirmasi bahwa AS menenggelamkan Iris Dena saat berlayar dekat pantai Sri Lanka. Pentagon merilis rekaman hitam-putih sebuah torpedo kelas berat Mark 48 yang menghantam fregat tersebut, menyebabkan semburan air laut ke udara.
“Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional,” kata Hegseth.
“Kapal itu ditenggelamkan oleh torpedo, kematian yang tenang – penenggelaman kapal musuh pertama oleh torpedo sejak Perang Dunia II,” tambah Hegseth. Seperti dalam perang itu, ketika kita masih menjadi departemen perang, kita berjuang untuk menang,” tambah dia. (The Guardian/nov)


