BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak fluktuatif pada perdagangan hari ini, dipengaruhi ketidakpastian konflik Timur Tengah setelah Amerika Serikat (AS) memperpanjang batas waktu menyerang fasilitas energi Iran.
Pada awal sesi I perdagangan saham hari ini, Selasa (7/4/2026), IHSG dibuka menguat 0,17% atau 11,85 poin ke level 7.001. Penguatan IHSG tak berlangsung lama, kemudian jatuh ke zona merah.
Hingga akhir sesi I perdagangan saham hari ini pada pukul 12:00 waktu JATS, IHSG terpantau melemah 0,29% atau 20,26 poin di level 6.969. Selama 3 jam perdagangan sesi I berlangsung, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 7.022, dan level terendah di 6.942.
Data perdagangan BEI menunjukkan sebanyak 371 saham turun harga, 261 saham naik harga, dan 174 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Volume saham yang ditransaksikan mencapai 17,423 miliar lembar, dengan frekuensi transaksi sebanyak 1.121.314 kali, dan nilai transaksi sebesar Rp7,235 triliun.
Saham-saham unggulan, seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), masih mengalami tekanan jual, hingga mengalami penurunan harga di atas 2%.
Harga TLKM terpantau turun 2,53% atau Rp80 menjadi Rp3.080 per saham, ASII terkoreksi 2,87% atau Rp175 menjadi Rp5.925 per lembnar, dan SMGR melemah 2,47% atau Rp60 menjadi Rp2.370 per saham.
Saham 4 bank besar, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), juga berada di zona merah.
Harga BBCA turun 0,38% atau Rp25 menjadi Rp6.475 per saham, BMRI merosot 1,74% atau Rp80 menjadi Rp4.530 per lembar, BBNI terkoreksi 2,20% atau Rp80 menjadi Rp3.560 per saham, dan BBRI melemah 1,81% atau Rp60 menjadi Rp3.250 per lembar.
Pergerakan IHSG masih dipengaruhi sentimen luar negeri seiring ketidakpastian perundingan damai AS dan Iran untuk mengakhiri perang. Meski AS telah mengumumkan perpanjangan batas waktu 24 jam untuk menyerang fasilitas energi Iran dari Selasa (7/4/2026) dinihari menjadi Rabu (8/4/2026), Militer Iran tetap menolak membuka Selat Hormuz.
Sebaliknya, militer Iran mendesak AS mengakhiri perang tanpa syarat, menarik pasukan dari pangkalan militer di negara-negara Teluk, dan mengganti rugi kerusakan akibat serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Selain itu, sentimen negatif dari dalam negeri yang mempengaruhi pergerakan indeks, datang dari kekhawatiran investor terkait kondisi fiskal RI.
Selama Triwulan I 2026, defisit anggaran RI tercatat sebesar Rp240,1 triliun, atau mencapai 0,93% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Tahun 2026 yang sebesar Rp25.800 triliun.
Hal itu menjadi pemberat IHSG, sehingga diperkirakan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini di kisaran level support 6.950, dan level resistance 7.050. (jea)


