Wamen Rosan: BUMN Wajib Tingkatkan Nilai Perusahaan Menuju Ekonomi Hijau

BRIEF.ID – Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rosan Perkasa Roeslani mengajak jajaran pimpinan  BUMN konsisten meningkatkan nilai-nilai perusahaan menuju ekonomi hijau atau green economy.

Langkah konkret itu diperlukan untuk meningkatkan kontribusi nyata BUMN sekaligus menjunjung prinsip transformasi energi bersih dan mengakselerasi ekonomi hijau.

“Saya mengajak para pemimpin untuk berkomitmen meningkatkan nilai perusahaan BUMN ke arah green economy agar bisa berkontribusi nyata bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Rosan pada Rapat Kerja Kementerian BUMN di Yogyakarta, Jumat (15/9/2023).

Raker bertema “Mendorong BUMN Menjadi Global Player”  dihadiri Menteri BUMN Erick Thohir, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo, dan jajaran pimpinan BUMN.

Seperti diketahui,  pemerintah telah menetapkan ekonomi hijau   menjadi salah satu strategi utama  untuk mempercepat pemulihan ekonomi setelah pandemi Covid-19 serta mendorong terciptanya pembangunan ekonomi  inklusif dan  berkelanjutan.

Ekonomi hijau juga telah dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020—2024. Tiga program yang menjadi prioritas adaah peningkatan kualitas lingkungan, peningkatan ketahanan bencana dan perubahan iklim, serta pembangunan rendah karbon.

Rosan mengatakan, saat ini baru ada  sekitar 5 perusahaan BUMN yang masuk dalam Fortune 500 Global Companies, di antaranya PT Pertamina (Persero). Disaat yang bersamaan, lanjutnya, tren value perusahaan  harus mampu menjadi perusahaan pelopor ekonomi hijau.

“Untuk menjadi perusahaan green economy, setiap perusahaan harus memiliki value yang dapat berkontribusi bagi environment, social, and governance (ESG),” ujarnya.

Ia mencontohkan Tesla,sebuah perusahaan otomotif dan penyimpanan energi asal Amerika Serikat (AS). Disebutkan bahwa produksi Tesla  lebih sedikit dibanding brand mobil seperti Mercedez Benz dan BMW yang secara historis lebih senior dibanding Tesla.

“Tapi kapitalisasi pasar Tesla bisa menyentuh angka US$ 860 miliar  yang setara 2/3 produk domestik bruto  Indonesia. Ini bisa terjadi karena Tesla memiliki value yang unik, yaitu mendukung green economy,” jelas Rosan.

Disebutkan, green economy based company  juga  menjadi nilai tambah yang mampu menarik hati para investor untuk berinvestasi secara signifikan dengan ekspektasi yield yang rendah.

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Penerapan Tarif Resiprokal AS, Indonesia Disarankan Perkuat Perdagangan BRICS

BRIEF.ID – Ekonom Hans Kwee menyarankan Pemerintah Indonesia  memperkuat...

Kebijakan Tarif Resiprokal Guncang Pasar Keuangan Global

BRIEF.ID – Keputusan  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump...

Menlu Pastikan Tidak Ada WNI Jadi Korban Gempa Myanmar

BRIEF.ID - Pemerintah Indonesia memastikan bahwa tidak ada Warga...

Menlu Pastikan Distribusi Bantuan Kemanusiaan Indonesia Lancar

BRIEF.ID - Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono memastikan distribusi...