Utang Nasional Amerika Tembus US$ 35 Triliun, Komite Anggaran: Sinyal Bahaya

BRIEF.ID – Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) menyatakan, total utang nasional tercatat menembus angka US$ 35 triliun hingga Juli 2024. Jumlah itu merupakan kenaikan tertinggi untuk pertama kalinya.

Menurut Daily Treasury Statement yang baru dirilis Departemen Keuangan AS, total outstanding utang publik naik menjadi US$ 35 triliun per 26 Juni 2024. Angka tersebut bertambah sekitar 1 triliun dolar AS dari jumlah utang nasional AS pada akhir 2023 yang tercatat sebesar US$ 34 triliun.

Presiden Committee for a Responsible Federal Budget atau Komite Anggaran Federal yang Bertanggungjawab, Maya MacGuineas, menyebut jumlah utang nasional yang telah melampaui US$ 35 triliun merupakan sinyal bahaya.

“Ini menunjukkan peminjaman terus berlanjut, gegabah, dan nekat, tetapi sinyal bahaya ini nampaknya tidak dihiraukan terlepas dari semua risikonya,” kata Maya MacGuineas, seperti dikutip Reuters, Senin (29/7/2024).

Terkait dengan itu, MacGuineas menyerukan Pemerintah Federal AS harus serius menangani utang nasional, dan segera mengatasi pos-pos anggaran yang meningkatkan beban utang.

Dia bahkan menyebut tahun pemilihan umum (pemilu) tidak bisa menjadi pengecualian untuk jor-joran menghamburkan anggaran dengan meningkatkan jumlah utang.

“Kita harus berupaya mencegah bahaya yang sepenuhnya dapat diperkirakan, dan utang adalah salah satu bahaya utama yang kita hadapi,” ujar MacGuineas.

Menurut Peter G. Peterson Foundation, sebuah organisasi nonpartisan yang berfokus pada penanganan tantangan fiskal jangka panjang AS, utang nasional sebesar US$ 35,001 triliun setara dengan utang US$ 103.945 per orang di AS.

Defisit anggaran ini, terutama disebabkan oleh faktor-faktor struktural yang dapat diprediksi, antara lain generasi baby boomer yang banyak, serta meningkatnya biaya perawatan kesehatan.

“Dan sistem pajak kita tidak menghasilkan cukup dana untuk membayar apa yang telah dijanjikan pemerintah kepada warga AS,” demikian pernyataan Peter G. Peterson Foundation.

Desmond Lachman, seorang senior fellow di American Enterprise Institute sekaligus mantan pejabat di Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), mengatakan kondisi ini membuktikan bahwa defisit anggatan AS berada di jalur bahaya.

“Tidak dapat dipungkiri kalau defisit anggaran AS berada di jalur dan laju yang berbahaya. Ini menimbulkan pertanyaan serius bagi dolar AS dan prospek jangka panjang inflasi,” tutur Lachman.

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Lebaran Ketupat, Tradisi Islam Merayakan Harmoni Sosial

BRIEF.ID – Syawalan atau yang dikenal luas dengan sebutan...

Airlangga Apresiasi Kerja Sama Ekonomi Indonesia-AS

BRIEF.ID - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan video conference...

PM Anwar Prioritaskan Penguatan Sinergi Ekonomi Malaysia-Indonesia

BRIEF.ID – Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan,...

Airlangga: Perlu Dibangun Komunikasi Dengan Pemerintah AS

BRIEF.ID - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia dan...