BRIEF.ID – Universitas Kristen Indonesia (UKI) dan Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) menjalin kerja sama untuk membangun kemitraan di bidang Tata Kelola, Manajemen Risiko, Kepatuhan, dan Keberlanjutan Sosial atau Governance, Risk, Compliance and Social Sustainability (GRCS).
Kerja sama tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU), disela-sela peluncuran Program Doktor Manajemen UKI, di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Pada kesempatan tersebut, UKI Menandatangani MoU dengan 6 pihak, dan GPIB menjadi satu-satunya lembaga atau organisasi gereja, yang digandeng UKI sebagai mitra strategis.
Rektor UKI, Prof. Dr. Dhaniswara K. Harjono, SH, MH, MBA, menyampaikan kerja sama dengan GPIB dilakukan untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) unggul dan mendorong peran positif gereja untuk negara dan masyarakat.
Dia mengungkapkan, UKI menyadari saat ini adalah era kolaborasi, sehingga sangat penting mengajak berbagai lembaga untuk bekerja sama guna menghasilkan SDM Unggul.
Rektor UKI menyampaikan, SDM Unggul ada di mana-mana, bukan hanya di pemerintahan, dunia usaha, dan pendidikan, tetapi juga di gereja. Inilah alasan UKI mengajak GPIB bekerja sama di bidang GRCS.
“Kami merasa senang ajakan kerja sama kami disambut GPIB, karena sesungguhnya kerja sama ini untuk kebangkitan kita bersama, untuk bisa lebih berperan positif bukan hanya bagi gereja dan dunia pendidikan, tetapi bagi umat, dan juga bangsa Indonesia,” kata Dhaniswara.
Dia menjelaskan, MoU yang ditandatangani merupakan langkah awal dan akan ditindaklanjuti dengan MoE, sesuai kebutuhan masing-masing lembaga.
Khusus bagi GPIB, UKI berharap kerja sama akan membuka peluang kesempatan magang mahasiswa, hingga transfer knowledge dari para ahli UKI mengenai situasi dan kondisi yang dihadapi bangsa dan masyarakat umum, khususnya generasi muda.
“Kalau di gereja dikenal pertukaran mimbar, melalui kerja sama ini bisa saja profesor-profesor di UKI memberikan pemahaman untuk menjawab persoalan negara dan keresahan masyarakat. Saya rasa ini bukan hanya menjadi tanggung jawab akademisi, tetapi juga gereja,” ungkap Dhaniswara.
Dia menegaskan, kerja sama UKI dan GPIB merupakan simbiosis mutualisme, karena akademisi pun membutuhkan pandangan tokoh atau pemimpin agama dalam menyikapi persoalan-persoalan kebangsaan, di luar pendekatan akademik.
Dengan kerja sama tersebut, UKI berharap kajian-kajian akademis yang dilakukan selama ini dapat disuarakan di kalangan gereja, dan bisa direalisasikan hingga menyentuh dan bermanfaat masyarakat.
“Jadi lewat kerja sama ini, kami berharap GPIB bisa menyuarakan disertasi para ahli di UKI dalam konteks keagamaan atau keimanan, dan memberi solusi bagi persoalan yang dihadapi masyarakat luas,” tutur Dhaniswara.
Peluang
Ketua Umum (Ketum) Majelis Sinode GPIB, Pendeta Nitis Putrasana Harsono M.Th, mengatakan sangat menyambut baik ajakan UKI untuk kerja sama atau kolaborasi membangun kemitraan di bidang GRCS.
Menurut Pendeta Nitis, kerja sama tersebut membuka peluang bagi GPIB untuk mendapat kajian-kajian akademis, guna membangun sumber daya unggul baik pada pemimpin maupun warga GPIB.
“Kerja sama ini memungkinkan untuk memperlengkapi sumber daya GPIB menjadi lebih bermutu dan bermakna bagi seluruh aspek kehidupan di tengah-tengah bangsa ini,” kata Pendeta Nitis, seusai penandatanganan MoU dengan UKI.
Melalui kerja sama tersebut, GPIB berharap dapat melihat sisi lain di luar aspek teologis, dan mendapat pendekatan atau kajian akademik terkait persoalan atau masalah kebangsaan, yang dihadapi rakyat Indonesia termasuk warga gereja.
Hal Ini menjadi alasan GPIB untuk menjalin kerja sama dengan UKI, karena menyadari ada keterbatasan untuk memahami persoalan-persoalan kebangsaan di luar konteks spiritual.
“Jadi dengan kerja sama ini, kami berharap pemimpin gereja dan umat dapat diperlengkapi secara akademik dengan kajian mendalam, dan mendapatkan referensi untuk menyikapi seluruh persoalan kebangsaan, dan dapat mendedikasikan kerja layan nyata dan bermutu kepada sesama,” ungkap Pendeta Nitis. (jea)


