The Premium Letter, Mungkinkah Panic Selling Berlanjut?

BRIEF.ID – Pada Rabu (28/1/2026) kapitalisasi pasar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergerus sebesar Rp 1.258 triliun  setelah terperosok   7,35% akibat gelombang panic selling investor  setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan  kenaikan kelas saham yang  diinvestasikan dan diperjualbelikan, terutama oleh pemodal asing.

Ancaman MSCI  men-down grade pasar saham Indonesia ke  frontier market  atau satu kelas di bawah  emerging market,  jika sampai Mei 2026 otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak meningkatkan dan memperbaiki transparansi data free-float.

Kabarnya, BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah berkoordinasi intensif  dengan MSCI untuk memenuhi transparansi data free float  atau  saham yang beredar di masyarakat.

Sebagai catatan, di Indonesia, sering  ada saham yang secara administratif tercatat sebagai milik publik (kepemilikan di bawah 5%), di sisi lain  secara substansi dimiliki  pihak-pihak yang terafiliasi dengan pengendali atau bersifat strategis (tidak aktif diperdagangkan).

MSCI ingin memastikan bahwa angka free float yang dilaporkan benar-benar mencerminkan likuiditas riil di pasar.

Data Kepemilikan

Secara teknis, apa yang dituntut oleh MSCI adalah perkara mudah jika saja pelaporan data kepemilikan saham publik dibuka secara transparan dan diumumkan secara terbuka. Situasi ini seharusnya dapat diselesaikan   secara cepat dan tepat oleh BEI.

Pada Rabu (28/1/2026) terlihat jelas bahwa pemodal asing  melakukan aksi jual hingga mencapai Rp  6,17 triliun atau setara dengan US$  222 juta. Jika diakumulasi,  sejak awal tahun asing melakukan penjulan bersih sebanyak Rp 3.713 triliun, menghapus semua net buy di hari sebelumnya senilai Rp 2,46 triliun.

IHSG  sejak awal  2025 naik 17,5% dan naik 41% dari titik terendah 2025. Dan, pada  awal tahun 2026, IHSG terkoreksi 3,77%.

Terkoreksinya IHSG sebanyak 7,35%  masih bisa dikategorikan sebagai profit taking normal dengan menggunakan alasan MSCI, perang tarif, dan tensi geopolitik.

Berdasarkan  rule of thumb (aturan baku) berinvestasi, sebuah harga aset atau indeks dikatakan memasuki fase bearish jika turun 20% dari titik tertingginya. Sedangkan, titik tertinggi IHSG adalah 9.174 yang terjadi pada dua pekan lalu. IHSG telah terkoreksi 10,26% dari titik tertingginya. Dengan menghitung 20% koreksi dari titik tertingginya, maka IHSG bottom level adalah 7.339.

Jika terjadi rebound on flow,  maka IHSG dapat berpotensi tiga kali lipat lebih besar dari angka persentase koreksi terendahnya atau ke kisaran tertinggi dikisaran 9.540.

Konsolidasi

Pertanyaannya, apakah  IHSG masih akan bergerak dalam rentang konsolidasi antara support flow 8.187 dan 8.464.

Berdasarkan laporan yang ada,  BEI dan OJK berjanji akan meningkatkan transparansi data free float,  yang kini  mulai diterbitkan lebih detail sejak awal Januari 2026. Diperkirakan, apabila  terdapat  update positif dari regulator, maka  kepanikan di lantai bursa dapat diredam.

Ini menjadi momentum buy on weakness  bagi investor jangka panjang, mengingat saham-saham fundamental diskon. Bagi trader harian, hati-hati volatilitas.

Sementara itu, harga emas dipasar spot pagi ini naik 6,8% di kisaran US$ 5.520  per ons kemarin pagi. Nilai tukar rupiah pagi ini stabil di angka Rp 16.730  per dolar AS.

Harga batubara untuk pengiriman bulan Maret 2026 naik 0,41% ke angka US$ 109,70  per metrik ton,  dan harga nikel naik ke kisaran US$ 18,364  per ton. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Kinerja MEDC Diprediksi Meningkat

BRIEF.ID – PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menargetkan produksi...

Harga Emas Antam Terus Meroket, Tembus Rekor Tertinggi di Level Rp3,1 Juta per Gram

BRIEF.ID - Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk...

BEI Cabut Trading Halt, IHSG Masih Terpuruk di Level Psikologis 7.000

BRIEF.ID - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut penghentian...

Analisa Teknis Perdagangan

ANTM Buy on Weakness: 4.400 – 4,360; SL 4.250; TP...