BRIEF.ID – Gedung Putih, pada Kamis (12/3/2026) mengecam pemberitaan stasiun televisi berita CNN, yang menayangkan sebagian pernyataan publik pemimpin tertinggi baru Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Pemberitaan itu adalah yang kedua kali dalam tiga hari, di mana CNN memberitakan elite pemerintah Iran, yang disebut-sebut menargetkan jaringan televisi itu menanggapi serangan Amerika Serikat (AS).
Kecaman Pemerintahan Presiden Donald Trump menggambarkan sikap kehati-hatian yang harus dilakukan media berita dalam pelaporan Berita selama masa perang, dan tanggung jawab jurnalis AS melaporkan perspektif negara-negara yang dianggap pemerintahnya sebagai musuh.
Pesan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei selama pernyataan publik pertamanya, sejak ia menggantikan ayahnya, yang tewas dalam serangan udara Israel, juga tersedia secara luas di media lain.
Gedung Putih mengatakan di media sosial bahwa “CNN baru saja menayangkan berita palsu selama empat menit, siaran langsung TV pemerintah Iran tanpa gangguan yang dijalankan oleh rezim psikotik dan pembunuh yang sama yang membanggakan diri karena secara brutal membantai orang Amerika selama 47 tahun.”
Wawancara CNN sebelumnya juga dikritik oleh Direktur Komunikasi Trump. Dua hari sebelumnya, Direktur Komunikasi Gedung Putih Steven Cheung mengkritik hasil wawancara pembawa acara CNN Erin Burnett dengan Seyed Hossein Mousavian, mantan negosiator nuklir Iran.
Burnett bertanya kepada Mousavian apa yang telah ia dengar tentang minat pemerintah Iran untuk melakukan pembicaraan dengan Amerika Serikat. Tidak banyak, katanya.
“Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana CNN hanya mengulang kutipan dan informasi yang tidak terverifikasi dari teroris Iran?” tulis Cheung di X. “Sangat memalukan. Mereka telah menjadi versi Pravda dari rezim Iran yang kejam,” katanya, merujuk pada surat kabar resmi bekas Uni Soviet.
CNN tidak menanggapi pernyataan Cheung, tetapi menanggapi serangan Gedung Putih, pada Kamis (12/3/2026). CNN mencatat bahwa Sky News dan Al Jazeera juga menayangkan secara langsung sebagian pernyataan ayatollah itu. (Associated Press/nov)


