Browsing Tag

Corporate Secretary BRI Finance Taufiq Kurniadihardja

News

Kinerja Perusahaan Pembiayaan Menjanjikan di Tengah Tantangan Ekonomi

September 28, 2022

Jakarta – Perekonomian Indonesia akan menghadapi berbagai tantangan pada semester II/2022, kendati demikian kinerja perusahaan pembiayaan diproyeksikan masih berada pada tren positif dan menjanjikan karena dinilai mampu menekan risiko dari tantangan tersebut.

Tantangan-tantangan itu adalah kondisi ketidakpastian ekonomi global yang terdorong konflik geopolitik antara Rusia-Ukraina atau China-Taiwan, sehingga bisa mengarah pada krisis energi dan pangan. Selain itu perihal kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat yaitu The Fed yang akan berimbas secara global. Di dalam negeri sendiri, kenaikan harga bahan bakar minyak akan mempengaruhi daya beli.

Kepala Departemen Pengawasan Industri Keungan Non Bank (IKNB) 2B Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bambang W. Budiawan mengatakan, potensi pasar industri pembiayaan Indonesia yang positif kendati menghadapi tantangan ekonomi terlihat dari perusahaan multifinance yang diminati investor asing.

Selain itu, kata Bambang, prospek kinerja yang cerah dari perusahaan pembiayaan di tengah tantangan ekonomi terlihat dari menurunnya perusahaan bermasalah. Saat ini hanya 15 perusahaan pembiayaan yang bermasalah dari 155 perusahaan setelah beberapa di antaranya mendapat sanksi atau memulihkan diri.

“Kalau mau tahu, terakhir itu ada beberapa multifinance yang diambil (investor) asing, itu sebenarnya indikator, bahwa perusahaan-perusahaan industri pembiayaan ini banyak yang diajak kerja sama,” ujarnya belum lama ini dalam sebuah seminar daring.

Industri pembiayaan dalam negeri pun tercatat tahan banting dalam menghadapi krisis, seperti akibat pandemi Covid-19 sejak awal 2020 lalu. Pihaknya mencatat pada semester I/2022 piutang pembiayaan industry multifinance tumbuh 7,12% secara tahunan. Pun demikian dengan total asset yang naik 4,5% secara tahunan.

Dari laba pertumbuhannya terbilang tajam hingga 33,72% secara tahunan. Finance to Asset Ratio (FAR) pun tergolong tinggi yakni mencapai 85,10%. Sedangkan NPF gross sekitar 2,72%. Adapun ROA sekitar 5,19% dan ROE 13,02%.

“Indikator angka-angka ini menunjukkan bahwa minat dari pada investor asing kepada perusahaan multifinance cukup tinggi. Bahwa bisnis ini masih datangin cuan yang cukup banyak, sehingga ke depan menjadi kelengkapan ekosistem yang dibangun. Dan angka ini menunjukkan optimisme meskipun ada faktor-faktor eksternal,” katanya.

Optimisme tersebut diamini pula oleh Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno. Kendati menghadapi tantangan ekonomi menurutnya semua lini usaha khususnya di sektor riil masih bergerak. Di sisi lain, kata dia, perusahaan pembiayaan harus waspada ketika suku bunga naik dan manakala semua harga-harga bahan baku pangan terkatrol akibat pengurangan subsidi BBM.

“Ini (tantangan ekonomi) bisa mempengaruhi pertumbuhan pembiayaan pada 2023 mendatang. Tapi pada 2022 mestinya kita cukup baik, pertumbuhannya mungkin bisa sekitar 6% – 8%,” ujar Suwandi.

Pada kesempatan yang sama Wakil Ketua Komisi XI-DPR RI Fathan Subchi mengatakan industri keuangan Indonesia masih sangat cerah dan prospektif. Berbicara tentang multifinance menurutnya masih optimistis karena beberapa investor masih mencoba masuk menanamkan modalnya di lembaga pembiayaan di Indonesia. “Jadi memang saya kira, saya sepakat kita masih optimistis,” ujarnya lugas.

Di sisi lain, dia menyarankan ada beberapa strategi yang bisa ditempuh agar industri pembiayaan semakin kuat. Pertama, memperkuat digitalisasi pelayanan debitur. Kedua, penerbitan obligasi untuk penguatan permodalan. Ketiga, ada prioritas pembiayaan yang berbasis digital.

Optimisme Pelaku Usaha

Sementara itu, Corporate Secretary PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) Taufiq Kurniadihardja mengatakan pihaknya optimistis pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi, sosial dan politik untuk meminimalisasi trickle down effect yang ditimbulkan oleh tantangan ekonomi yang dihadapi.

“Dengan demikian momentum pertumbuhan pembiayaan di tengah pemulihan ekonomi bisa terus terjaga guna mendukung pembiayaan yang berkelanjutan atau sustainable finance,” ujarnya menekankan.

Di sisi lain Taufiq pun berharap penguatan kepastian hukum bagi dunia usaha juga sangat diperlukan agar tumbuh kepercayaan para pelaku usaha bahwa bisnis dan kepentingan bisnis semakin terlindungi.   

Selain itu BRI Finance pun berharap pemerintah memperkuat sektor-sektor potensial untuk menjaga pertumbuhan industri pembiayaan. Seperti upaya kongkret percepatan pembentukan ekosistem kendaran listrik di Indonesia. “Ini agar bisa menaikkan minat masyarakat untuk membeli kendaraan listrik, dan meningkatkan produk pembiayaan kendaraan berbasis listrik,” pungkasnya.

News

Hadapi Tantangan Ekonomi karena Inflasi, Begini Strategi BRI Finance

September 12, 2022

Jakarta – PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi strategis untuk menghadapi tantangan ekonomi karena inflasi yang tinggi, seiring dengan kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan juga pasca pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Corporate Secretary BRI Finance Taufiq Kurniadihardja mengatakan pihaknya telah mengantisipasi tantangan ekonomi yang akan dihadapi melalui diversifikasi pendanaan. Termasuk salah satunya melalui penerbitan Obligasi I BRI Finance Tahun 2022 yang sudah dicatatkan efektif di Bursa Efek Indonesia sejak 10 Agustus 2022. 

“Selain itu BRI Finance juga senantiasa mengupayakan agar maturity dari struktur pendanaan matching dengan struktur pembiayaan, dengan tetap memperhatikan cost of fund agar terjadi ketersesuaian antara pola pendanaan dan pola pembiayaan,” ujarnya menekankan.

Sebelumnya, BRI Finance mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) sebanyak 147% atas penerbitan Obligasi I BRI Finance Tahun 2022 senilai Rp 1,03 triliun. Adapun kupon final dari obligasi tersebut untuk tenor 3 tahun sebesar 6,95%.

Di sisi lain perseroan mengakui, kenaikan suku bunga akan berpengaruh kepada kenaikan biaya dana atau cost of fund bagi perusahaan multifinance secara umum. Namun, setiap perusahaan multifinance memiliki struktur pendanaan (funding) yang berbeda-beda. Ada perusahaan yang memiliki proporsi funding jangka panjang yang lebih besar dibandingkan dengan proporsi funding jangka pendek. Ataupun sebaliknya.

Bagi perusahaan multifinance dengan proporsi funding jangka panjang lebih besar, maka kenaikan suku bunga acuan tidak berdampak signifikan terhadap besaran kenaikan cost of fund. Oleh karena itu, dengan keberhasilan menerbitkan obligasi pada Agustus lalu, pihaknya lebih optimistis menghadapi tantangan ekonomi.

Penerbitan obligasi ini juga merupakan salah satu strategi BRI Finance guna mendukung inisiatif perusahaan sehingga ke depan lebih fokus ke pembiayaan konsumer yang memiliki karakteristik tenor panjang dan suku bunga tetap.

Taufiq pun mengamini jika kenaikan harga BBM bisa berpotensi meningkatkan rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Finance/NPF). Sebab memberikan dampak menurunnya daya beli masyarakat sehingga bisa memengaruhi kemampuan debitur untuk membayar kewajiban angsuran. Di mana sebagian debitur akan memilih opsi menunda membayar angsuran guna memenuhi kebutuhan yang lebih primer. 

Oleh karena itu, pihaknya tetap melanjutkan kebijakan prudential financing yang telah dilakukan selama ini secara konsisten. Juga memastikan bahwa calon-calon debitur yang mengajukan pembiayaan saat ini tentu telah memperhitungkan kemampuannya untuk membayar angsuran  tepat waktu.

“Selain itu, jajaran bisnis juga diminta untuk melakukan monitoring sektor-sektor industri yang terdampak langsung kenaikan harga BBM, dan menjaga kualitas aset pembiayaan eksisting,” lanjutnya.

Manfaatkan Momentum

Di sisi lain, kendati kenaikan harga BBM berisiko pada industri pembiayaan, Taufiq menegaskan BRI Finance masih dapat mengambil kesempatan dari hal tersebut. Yaitu potensi pertumbuhan penjualan kendaraan listrik. Saat ini BRI Finance sudah menyediakan fasilitas pembiayaan kendaraan berbasis listrik, baik untuk kendaraan roda 2 maupun roda 4. 

“Diyakini bahwa kenaikan harga BBM akan meningkatkan animo dan minat masyarakat untuk shifting membeli dan menggunakan kendaraan berbasis listrik, karena dianggap jauh lebih efisien dalam hal biaya konsumsi dibandingkan kendaraan yang menggunakan BBM. Sehingga berpotensi untuk meningkatkan portofolio produk pembiayaan kendaraan berbasis listrik ke depan,” ujarnya optimistis.

Sebelumnya, perseroan telah menggandeng PT Smoot Motor Indonesia untuk memperluas pasar pembiayaan sepeda motor listrik. Hal ini seiring dengan aspirasi BRIF untuk memperbesar pangsa pasar pembiayaan konsumer sekaligus berperan aktif mendukung program pemerintah dalam peningkatan kendaraan ramah lingkungan.

Adapun dilihat dari sisi proyeksi realisasi kinerja, BRI Finance pada tahun ini membidik pembiayaan tumbuh lebih dari 20%. Anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI ini juga optimistis menatap pasar di sisa tahun ini setelah penerbitan obligasi. Hal itu pun didukung kinerja BRI Finance yang sangat positif setidaknya hingga Mei 2022.

Di mana piutang pembiayaan perseroan mencapai Rp5,65 triliun atau naik 18% dari posisi Desember 2021.  Komposisi pembiayaan konsumer mencapai 68% dari total portofolio. Persentase itu naik dari 59% pada Desember 2021. Kualitas aset pun sangat terjaga dengan rasio non performing financing (NPF) net tercatat sebesar 0,16% pada Mei 2022.

Total aset perseroan terus meningkat hingga mencapai Rp6,34 triliun pada Mei 2022. Hingga periode yang sama BRI Finance mampu membukukan pendapatan sebesar Rp327 miliar. Raihan itu meningkat 48,25% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp220 miliar.

Sementara itu, laba bersih BRI Finance mencapai Rp25 miliar pada Mei 2022 atau melesat 126,41% dari periode yang sama tahun lalu yaitu Rp11 miliar. Hingga penghujung 2022, BRI Finance membidik pembiayaan baru di atas Rp4 triliun.