BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah kembali tertekan ke level Rp16.900 per dolar Amerika Serikat (AS), setelah sempat menguat di awal perdagangan hari ini, Kamis (5/3/2026).
Hingga sesi I perdagangan hari ini berakhir sekitar pukul 12:00 WIB, kurs rupiah terpantau berada di level Rp16.911 per dolar AS. Sebelumnya rupiah dibuka menguat terbatas 0,03% kelevel Rp16.880 per dolar AS.
Penguatan rupiah di awal perdagangan hari ini, sejalan dengan pergerakan mata uang Asia di zona hijau, seiring pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,07% ke level 98,7.
Meski demikian, penguatan rupiah perlahan menipis dan kembali menyentuh level psikologis Rp16.900. Hal itu dipengaruhi revisi Fitch Ratings terhadap outlook peringkat utang Indonesia dari stabil ke negatif.
Revisi outlook peringkat utang Indonesia tersebut terutama didasarkan pada defisit fiskal Indonesia, yang terbebani program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Pada Januari 2026, defisit fiskal Indonesia tercatat mencapai Rp54,6 triliun atau setara dengan 0,21% terhadap Produk Domestik Bruto 9PDB) nasional.
Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga datang dari arus modal asing keluar (capital outflow) dari Pasar Surat Utang dan Pasar Saham yang masih berlanjut.
Sepanjang tahun ini, capital outflow dari Surat Berharga Negara (SBN) tercatat sebesar US$151,5 juta. Sementara capital outflow di pasar saham tercatat sebesar US$408,5 juta.
Dampak dari meningkatnya eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah terhadap lonjakan inflasi, juga membuat investor cenderung menghindari pasar berkembang (emerging market), termasuk Indonesia, sehingga rupiah makin tertekan.
Untuk perdagangan hari ini, kurs rupiah diprediksi masih berada dalam tren melemah di kisaran level Rp16.875 per dolar AS hingga Rp16.925 per dolar AS. (jea)


