BRIEF.ID – PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian untuk tahun yang berakhir, pada 31 Desember 2025 dengan capaian kinerja sangat positif. Emiten perkebunan kelapa sawit itu membukukan lonjakan pendapatan signifikan yang mendorong pertumbuhan laba bersih tahun berjalan.
Di lantai bursa, SSMS dikategorikan sebagai emiten sawit mid-cap yang sedang bertumbuh sehingga menarik bagi investor yang optimistis terhadap harga CPO dan mencari growth stock di sektor perkebunan.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan hal-hal menyangkut valuasi PER tinggi, risiko utang, dan siklus komoditas.
Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, perusahaan dengan kode perdagangan SSMS mencatatkan pertumbuhan pada pos-pos utama keuangannya, dengan meraih pendapatan sebesar Rp 14,81 triliun atau tumbuh 42,9% dibandingkan tahun 2024, yang sebesar Rp 10,37 triliun.
Seiring Raihan kenaikan pendapatan, laba bruto korporasi juga mengalami peningkatan 57,8% menjadi Rp 5,17 triliun dari sebelumnya Rp 3,28 triliun.
Selain itu, SSMS sukses mengantongi laba tahun berjalan sebesar Rp 1,20 triliun atau naik 42,4% dibandingkan perolehan tahun 2024 sebesar Rp 844,69 miliar.
Laba yang Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk tercatat sebesar Rp 1,16 triliun atau meningkat 41,6% dari Rp 819,53 miliar pada periode tahun 2024 lalu.
Sejalan dengan pertumbuhan laba, laba per saham dasar (earnings per share) naik menjadi Rp 121,86 dari sebelumnya Rp 86,04 pada tahun 2024.
Perseroan juga menunjukkan perubahan signifikan pada struktur posisi keuangan, yang dipengaruhi oleh aktivitas akuisisi anak usaha baru (PT Sawit Mandiri Lestari) selama tahun 2025.
Total aset emiten sawit ini mengalami kenaikan sebesar 14,4 persen menjadi Rp 13,58 triliun dari Rp 11,87 triliun di akhir tahun 2024. Total liabilitas meningkat menjadi Rp 10,64 triliun, naik 18,4 persen dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar Rp 8,99 triliun. Hal ini terutama didorong oleh kenaikan utang bank jangka panjang.
Adapun total ekuitas perseroan tumbuh tipis 1,9% menjadi Rp 2,94 triliun dibandingkan Rp 2,88 triliun pada tahun sebelumnya. (nov)


