BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah terpuruk mendekati level Rp16.950 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (13/3/2026), imbas lonjakan harga minyak dunia yang menembus US$100 oper barel.
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, kurs rupiah dibuka melemah 0,18% atau 30 poin menjadi Rp16.923 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp16.893 per dolar AS.
Sementara pada sesi pagi perdagangan di pasar spot, nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,04% di level Rp16.900. Hingga pukul 12.00 WIB, nilai tukar rupiah terpantau kian terpuruk dan berada di level Rp16.945 per dolar AS.
Di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), kurs rupiah bergerak dari Rp16.920 per dolar AS kala pembukaan perdagangan, lalu bergeser menguat terbatas 0,09% ke Rp16.906 per dolar AS.
Pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,1% ke level 99,64 memberi sedikit ruang bagi penguatan rupiah. Meski demikian, kenaikan harga minyak dunia yang menembus level US$100 per barel membuat nilai tukar rupiah tertekan.
Pada perdagangan hari ini, harga minyak dunia melambung ke level US$101,68 per barel, naik sebesar 1,21% dibandingkan US$100,46 per barel pada penutupan perdagangan Kamis (12/3/2026).
Kenaikan harga minyak membuat investor khawatir dengan kondisi fiskal Indonesia, mengingat beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) akan bertambah.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyampaikan, berdasarkan hasil kalkulasi, defisit anggaran dapat mencapai 3,6% dalam skenario terburuk jika harga minyak melambung lebih lama.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi cenderung tertekan dan bergerak di kisaran level Rp16.880 per dolar AS hingga Rp16.950 per dolar AS. (jea)


