Rupiah Sentuh Level Rp17.100 di Akhir Pekan, Investor Khawatirkan Kondisi Fiskal RI

BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah menyentuh level Rp17.100 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan, Jumat (10/4/2026), seiring investor mengkhawatirkan kondisi fiskal  Republik Indonesia (RI).

Berdasarkan data transaksi di pasar spot hari ini, kurs rupiah dibuka stagnan di Rp17.085 per dolar AS, namun tak berselang lama langsung terkoreksi 0,2% ke level Rp17.089 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terus terjadi seiring kenaikan harga minyak dunia di sesi pagi perdagangan hari ini. Hingga pukul 10:30 WIB, rupiah terpantau terus melemah dan menyentuh level Rp17.112 per dolar AS.

Harga minyak dunia terpantau naik sebesar 0,58% menjadi US$96,48 per barel, meskipun gencatan senjata yang disepakati AS dan Iran telah berlaku, dan Selat Hormuz kembali dibuka.

Harga minyak yang masih tinggi membuat investor khawatir dengan kondisi fiskal Indonesia, terutama untuk subsidi dan kompensasi energi yang membengkak.

Hal itu, disebabkan pemerintah RI berkomitmen tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi hingga akhir tahun ini demi menjaga daya beli masyarakat. 

Sementara di sisi lain, penerimaan devisa dari luar negeri, maupun penerbitan Surat Utang Negara (SUN), dan perpajakan juga menurun, sehingga beban fiskal semakin berat.

Meskipun pemerintah melakukan sejumlah langkah efisiensi, investor menyoroti kebijakan fiskal yang tidak konsisten, karena belanja atau pengadaan barang yang menelan biaya besar.

Temuan terbaru dari Center for Budget Analysis (CBA) mengenai penggunaan anggaran yang tidak sesuai dengan program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Badan Gizi Nasional membuat investor meragukan kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah.

CBA melaporkan, Badan Gizi Nasional, yang menaungi program prioritas MBG, disinyalir mengeluarkan biaya sebesar Rp3,2 triliun untuk membeli 65.067 unit kendaraan motor. 

Jika dikalkulasikan dengan jumlah pengadaan kendaraan motor yang sudah terjadi sebanyak 21.800 unit, maka anggaran yang terpakai mencapai Rp1,07 triliun, di mana harga per unit sebesar Rp49,17 juta. 

Bagi investor asing, konsistensi kebijakan fiskal menjadi pertimbangan untuk menanamkan modal, terutama di SUN. Inkonsistensi kebijakan fiskal pemerintah, sangat sensitif bagi investor asing, sehingga dapat memicu arus modal keluar (capital outflow).

Apalagi dengan defisit APBN yang sudah melebar pada triwulan I 2026, dan akan semakin melebar seiring kenaikan harga minyak dunia, yang memicu lonjakan inflasi.

Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi masih bergerak melemah terbatas di kisaran level Rp17.000 per dolar AS, hingga Rp17.120 oer dolar AS. (jea)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

IHSG Melesat 2% Didongkrak Saham Perbankan dan Energi

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...

Harga Emas Antam Menguat Tipis Jelang Perundingan Damai AS dan Iran di Islamabad

BRIEF.ID - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang...

Perang Dorong Inflasi Tinggi

BRIEF.ID – Riset Phintraco Sekuritas mengungkapkan  risalah terbaru Bank...

Setelah Rebound, Penguatan IHSG Diperkirakan Berlanjut

BRIEF.ID – Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada...