BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah menguat pada perdagangan hari ini, Rabu (14/1/2026), imbas rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) terbaru yang menunjukkan stagflasi.
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, kurs rupiah dibuka menguat tipis 0,04% atau 7 poin menjadi Rp16.870 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.877 per dolar AS.
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,13% ke level Rp16.843 per dolar AS. Hingga pukul 09:30 WIB, rupiah terus menguat dan terpantau berada di level Rp16.865 per dolar AS.
Penguatan terbatas rupiah terjadi seiring rilis data inflasi AS terbaru. Pada Selasa (13/1/2026), US Bureau of Labor Statistics mengumumkan inflasi AS pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,7% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Angka tersebut tidak berubah, sama dengan posisi bulan sebelumnya.
Sementara inflasi inti (core) pada Desember 2025 berada di 2,6% yoy. Juga sama dengan bulan sebelumnya, dan bahkan lebih rendah ketimbang ekspektasi pasar yang memperkirakan di 2,7% yoy.
Data tersebut memberi sinyal meredanya tekanan inflasi, sehingga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) diprediksi akan kembali melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter termasuk pemangkasan suku bunga acuan.
Meski demikian, respons pelaku pasar tidak sepenuhnya positif bagi aset berisiko, termasuk mata uang di pasar negara berkembang, sehingga nilai tukar rupiah hanya menguat terbatas.
Selain itu, pelaku pasar juga masih mencermati arah kebijakan fiskal Indonesia, khususnya terkait pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi bergerak konsolidatif dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran Rp16.850 per dolar AS hingga Rp16.880 per dolar AS. (jea)


