BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (3/2/2026), imbas surplus neraca dagang Indonesia selama 62 bulan beruntun.
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, kurs rupiah dibuka menguat 0,21% atau 36 poin menjadi Rp16.762 per dolar AS dari level sebelumnya Rp16.798 per dolar AS.
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,15% menjadi Rp16.765 per dolar AS. Hingga pukul 11:00 WIB, nilai tukar rupiah terpantau masih menguat dan berada di level Rp16.766 per dolar AS.
Penguatan mata uang garuda pada perdagangan hari ini, ditopang oleh rilis Badan Pusat Statistik (BPS) terkait surplus neraca dagang Indonesia, yang terjadi selama 62 bulan beruntun.
Menurut BPS, pada periode Januari–Desember 2025 surplus neraca dagang Indonesia tercatat mencapai US$41,05 miliar, dan Desember 2025 sebesar US$2,51 miliar.
Surplus neraca dagang tersebut mengindikasikan ekspor Indonesia masih memberi pasokan valuta asing (valas) terutama dolar AS, dan menjadi penyangga rupiah.
Sentimen positif terhadap penguatan rupiah juga dipengaruhi oleh melemahnya indeks dolar AS. Pada sesi pagi perdagangan hari ini,
Indeks dolar AS (DXY) terkoreksi 0,11% ke level 97,52.
Pelemahan indeks dolar AS mendorong mayoritas mata uang Asia bergerak di zona hijau, antara lain Baht Thailand (+0,38%), Won Korea Selatan (+0,22%), Dolar Singapura (+0,22%), Yen Jepang (+0,09%), Yuan Tiongkok (+0,07%), Peso Filipina (+0,06%), dan Dolar Taiwan (+0,04%).
Meski rupiah hari ini menguat, kondisi ekonomi dalam negeri tetap menjadi sorotan investor, seiring dengan deefisit transaksi berjalan yang terus melebar, kebutuhan pembiayaan fiskal yang besar, serta arus keluar portofolio asing dari Surat Utang Negara (SUN), dan pasar saham Indonesia.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diprediksi menguat terbatas dengan bergerak di kisaran Rp16.750 per dolar AS hingga Rp16.780 per dolar AS. (jea)


