BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring lonjakan harga minyak dunia. Hal itu, membuat investor menyoroti kebijakan moneter yang akan dilakukan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) pada pekan ini.
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, Senin (16/3/2026), nilai tukar rupiah dibuka melemah 0,07% atau 12 poin menjadi Rp16.970 per dolar AS dari level sebelumnya Rp16.958 per dolar AS.
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah dibuka tertekan 0,11% menjadi Rp16.963 per dolar AS. Hingga pukul 11:00 WIB, nilai tukar rupiah kian melemah, terpantau berada di level Rp16.993 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipengaruhi lonjakan indeks dolar AS, yang melesat dan bertahan di level 100 sejak pekan lalu, seiring lonjakan harga minyak dunia.
Kenaikan harga minyak dunia memberi tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang (emerging market), yang cenderung bergantung pada dolar AS.
Pada sesi pagi ini, indeks dolar AS terpantau berada di level 100,42. Kenaikan indeks dolar AS menekan mata uang Asia, terutama Baht Thailand, Peso Filipina, Dolar Taiwan, dan rupiah.
Sementara sentimen dari dalam negeri juga minim, seiring kekhawatiran investor mengenai tekanan kenaikan harga minyak dunuia terhadap APBN 2026. Defisit APBN diperkirakan membengkak seiring naiknya subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Selain itu, investor juga mencermati kebijakan moneter yang akan diputuskan RDG-BI untuk tetal menjaga stabilitas rupiah, sekaligus mengendalikan inflasi, yang diperkirakan melonjak seiring kenaikan harga minyak dunia.
Hasil RDG-BI, yang akan diumumkan pada Selasa (17/3/2026), diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,75%.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diprediksi masih berada dalam tren melemah, dan bergerak di kisaran Rp16.650 per dolar AS hingga Rp17.000 per dolar AS. (jea)


