BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah makin terjepit dan mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS), pada perdagangan awal pekan ini, Senin (30/3/2026).
Lonjakan harga minyak dunia yang menyentuh US$115 per barel, diikuti penguatan indeks dolar AS di level 100, memberi tekanan besar pada mata uang dunia terutama di negara-negara berkembang (emerging market) termasuk rupiah.
Pada awal perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah 0,08% di level Rp16.978 per dolar AS. Hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, pelemahan rupiah terus berlanjut, terpantau berada di level Rp16.987 per dolar AS.
Sama seperti rupiah, mayoritas mata uang Asia juga tertekan dolar AS, antara lain Peso Filipina (-0,37%), Baht Thailand (-0,27%), Dolar Taiwan (-0,25%), Won Korea Selatan (-0,18%), Ringgit Malaysia (-0,14%), Yuan Tiongkok (-0,13%), Yuan offshore (-0,09%), dan Dolar Singapura (-0,05%).
Perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah yang meluas, membuat harga minyak dunia erus melonjak, seiring penutupan Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama distribusi minyak global.
Keterlibatan militan Houthi yang berbasis di Yaman dalam konflik Timur Tengah, semakin menambah kekhawatiran bahwa AS dan Iran tak akan segera mencapai kesepakatan damai.
Hal itu, membuat pasokan minyak dunia semakin berkurang karena penutupan Selat Hormuz. Negara-negara Teluk juga mengurangi produksi, karena distribusi yang terhambat.
Sejumlah pengamat menilai kondisi konflik geopolitik Timur Tengah yang berkepanjangan berpotensi membuat harga minyak terus naik bahkan bisa menyentuh level US$200 per barel.
Dari dalam negeri, sentimen terkait lelang Surat Utang Negara (SUN) yang akan dilakukan pemerintah pada pekan ini, tidak terlalu mendapat respons positif, karena dipastikan harga akan mahal seiring ketidakpastian global.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di tren melemah, dan bergerak di kisaran level Rp16.800 per dolar AS hingga Rp17.000 per dolar AS. (jea)


