BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah kembali melemah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan akhir pekan, Jumat (16/10/2026), imbas sentimen risk-off global.
Terkait dengan itu, Bank Indonesia menegaskan hadir, dan terus melakukan intervensi di seluruh pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta International Spot Dollar Rate (Jisdor) dibuka melemah 0,46% atau 83 poin menjadi Rp18.021 per dolar AS dari level sebelumnya Rp17.938 per dolar AS.
Hingga pukul 11:20 WIB, nilai tukar rupiah terpantau terus tertekan hingga menyentuh level Rp18.038 per dolar AS, turun 0,55% atau 100 poin dari level Rp17.938.
Sedangkan nilai tukar rupiah di pasar spot hari ini, terpuruk hingga 0,61% ke level Rp18.063 per dolar AS, dan masih melanjutkan pelemahan seiring tekanan risk-off.
Pelemahan rupiah hari ini, sejalan dengan sentimen risk-off global, seiring investor menarik modal dari emerging market dan mengalihkan ke aset berdenominasi dolar AS.
Hal itu, terlihat dari pelemahan mayoritas mata uang Asia selain rupiah, yakni Dolar Taiwan (-0,40%), Won Korea Selatan (-0,22%), Baht Thailand (-0,08%), Peso Filipina (-0,06%), Dolar Singapura (-0,05%), Ringgit Malaysia (-0,03%), Yuan Tiongkok (-0,02%), dan Yen Jepang (-0,01%).
Meski demikian, rupiah menjadi mata uang terlemah di Asia seiring gejolak pasar keuangan di dalam negeri pascapengumuman laporan konsultasi Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Dalam laporan hasil konsultasi tersebut, MSCI diketahui mengusulkan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dariEmerging Market (pasar berkembang) keStandalone Market(pasar mandiri).
MSCI akan mengumumkan keputusan final paling lambat akhir Juni 2027, dan dapat memberikan pembaruan sementara mengenai masukan dari pelaku pasar selama masa konsultasi.
Laporan konsultasi MSCI tersebut, langsung mengguncang pasar saham Indonesia, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh hingga lebih dari 10%, dan berimbas menekan nilai tukar rupiah.
Menyikapi kondisi tersebut, Bank Indonesia menyatakan akan terus hadir di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya, seiring tekanan risk-off global dan gejolak di dalam negeri.
“Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksiNon-Deliverable Forward (NDF) di pasaroffshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea, di Jakarta, Jumat.
Erwin menyampaikan, arus modal keluar (capital outflow) dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dolar AS dan obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Menurut dia, pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan, dengan pelemahan terbatas sebesar 0,28% secaraquarter-to-date (QTD). Cadangan devisa juga tetap terjaga sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026.
“Bank Indonesia juga menjaga kecukupan likuiditas dan mengelola struktur suku bunga di pasar uang, serta terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya,” tutur Erwin. (Jea)


