BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah cenderung bertahan atau stagnan pada perdagangan hari ini, Selasa (6/10/2026), ketika obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) atau US Treasury dan indeks dolar AS makin gacor.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka naik tipis 0,03% atau 6 poin menjadi Rp17.911 per dolar AS dibandingkan level sebelumnya Rp17.917 per dolar AS.
Meski demikian, penguatan rupiah perlahan terkikis. Hingga pukul 11:30 WIB, nilai tukar rupiah terpantau berada di level Rp17.917 per dolar AS, sama dengan posisi pada penutupan perdagangan Senin (5/10/2026).
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah membuka perdagangan hari ini dengan melemah 0,04% ke level Rp17.919 per dolar AS, dan terus tertekan hingga menyentuh level Rp17.925 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipengaruhi tekanan eksternal, seiring kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury, dan indeks dolar AS, yang membuat investor menarik modal dari pasar keuangan emerging market termasuk Indonesia.
Adapun yield US Treasury terpantau naik menjadi 5,31%, sedangkan indeks dolar AS naik ke level 102,12, sehingga memicu mata uang Asia melemah pada sesi pagi perdagangan hari ini.
Mata uang Asia yang melemah terhadap dolar AS antara lain, Peso Filipina, Won Korea Selatan, Ringgit Malaysia, Dolar Singapura, Baht Thailand, Dolar Hong Kong, dan Yen Jepang.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh transaksi obligasi pemerintah atau Surat Utang Negara (SUN). Yield SUN berdenominasi dolar AS ikut terkerek naik ke 6,29%, tertinggi sejak Oktober 2009.
Sentimen dari dalam dan luar negeri tersebut, menjadi ujian berat bagi lelang SUN hari ini, meskipun menawarkan bunga yang menarik. Selisih bunga SUN dengan US Treasury cukup lebar dengan risiko meningkat tercermin dari CDS (Credit Default Swap) 5 tahun sebesar 95,69.
Terkait dengan itu, kurs rupiah hari ini diperkirakan bergerak stagnan dengan kecenderungan melemah di kisaran level Rp17.900 per dolar AS hingga Rp18.000 per dolar AS. (Jea)


