BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah anjlok hingga menyentuh level Rp17.950 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Hal itu, dipicu lonjakan harga minyak dunia dan inflasi AS per September 2026.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka anjlok 0,25% atau 45 poin menjadi Rp17.948 per dolar AS dari level sebelumnya Rp17.903 per dolar AS.
Dalam waktu 1 jam setelah perdagangan hari ini dibuka atau tepatnya pada pukul 10:00 WIB, kurs rupiah terpantau menyentuh level Rp17.954, turun 0,28% atau 51 poin dari Rp17.903 pada penutupan perdagangan Rabu (14/6/2026).
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah dibuka terkoreksi 0,3% menjadi Rp17.965 per dolar AS, dan terus melanjutkan pelemahan hingga menyentuh level Rp17.972 per dolar AS.
Pelemahan rupiah hari ini dipengaruhi faktor eksternal, terutama lonjakan harga minyak dunia dan inflasi AS per September 2026, yang meningkatkan ekspetasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada rapat FOMC bulan ini.
Harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan global kembali menyentuh level US$106 per barel, seiring konflik Timur Tengah yang tak kunjung berakhir, dan memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kelangkaan pasokan energi.
Kekhawatiran pelaku pasar makin meningkat seiring rilis data inflasi AS per September 2026 yang diumumkan US Bureau of Labor Statistics pada Rabu (14/10/2026) waktu setempat.
Dilaporkan, inflasi AS secara tahunan atau year-on-year (yoy) sebesar 3,7% per September 2026. Angka tersebut meningkat dari inflasi AS per Agustus 2026 sebesar 3,4% (yoy), bahkan lebih tinggi dari ekspektasi pasar yang sebesar 3,6% (yoy).
“Secara bulanan, inflasi AS per September 2026 ada di 0,6%, dan menjadi inflasi tertinggi dalam lima bulan terakhir,” bunyi pernyataan US Bureau of Labor Statistics, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (15/10/2026).
Sementara inflasi inti (core) AS secara tahunan adalah 2,6% (yoy), lebih tinggi dari posisi Agustus 2026 yang sebesar 2,4% (yoy), dan melebihi proyeksi konsensus pasar yang sebesar 2,5%.
Lonjakan inflasi AS pada September 2026, meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed atau Fed Funds Rate (FFR).
Data CME FedWatch, menunjukkan proyeksi konsensus pasar meningkat dari 22,1% menjadi 31,8% terhadap potensi kenaikan FFR sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,00%-4,25% pada rapat FOMC periode Oktober 2026.
Sementara dari dalam negeri, pelemahan rupiah dipicu peningkatan arus modal keluar, seiring kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi yang dapat memicu kenaikan suku bunga, dan membebani biaya ekspor-impor.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diprediksi masih melemah, dan bergerak di kisaran level Rp17.880 per dolar AS hingga Rp17.980 per dolar AS. (Jea)


