BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah anjlok ke level Rp16.400 pada perdagangan akhir pekan, Jumat (29/8/2025), imbas aksi demo yang ricuh dan mengkhawatirkan. Hal itu, membuat Bank Indonesia siaga dan melakukan intervensi untuk menjaga kestabilan rupiah.
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, kurs rupiah dibuka melemah tipis 0,01% atau 1 poin menjadi Rp16.354 per dolar Amerika Serikat (AS) dari posisi sebelumnya Rp16.353 per dolar AS.
Sementara di pasar spot nilai tukar rupiah melemah 0,12% menjadi Rp16.368 per dolar AS. Hingga pukul 11:00 WIB, rupiah terus tertekan dan berada di level Rp16.458 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terutama dipicu sentimen dalam negeri, seiring kekhawatiran investor terhadap perkembangan aksi demo mahasiswa dan pelajar terhadap DPR yang meluas ke bentrokan dengan polisi, sehingga riuh dan menyebabkan korban jiwa.
Kekhawatiran investor terlihat dari aksi jual yang dilancarkan begitu pasar keuangan hari ini dibuka. Tekanan tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga pasar obligasi.
Analis memperkirakan, rupiah berpotensi terperosok ke kisaran Rp16.400 per dolar AS hingga Rp16.500 per ddolar AS dipicu oleh penarikan modal asing atau foreign capital outflow dari pasar keuangan Indonesia.
Jika eskalasi demonstrasi terus berlanjut dan berkembang ke arah yang sulit ditebak, rupiah berpotensi tertekan ke level Rp16.500 per dolar AS hingga Rp16.700 per dolar AS.
Menyikapi pelemahan rupiah akibat situasi domestik yang mengkhawatirkan investor asing sehingga terjadi foreign capital outflow, Bank Indonesia pun merespon dengan siaga menjaga kestabilan rupiah.
Direktur Eksekutif Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan BI berada di pasar untuk menstabilkan rupiah dengan menggeber intervensi di pasar spot valas, pasar obligasi juga pasar forward (NDF) baik di dalam negeri maupun luar negeri (offshore).
Bukan hanya rupiah yang mengalami tekanan jual besar. Indeks saham, IHSG juga terbenam di zona merah. Hingga Pukul 11:20 WIB perdagangan hari ini, IHSG sudah ambles 2,13% di level 7.779.
Adapun surat utang negara, pergerakan yield tenor jangka pendek juga turun, mengindikasikan ada permintaan beli yang mengungkit harga. Yield 2Y turun 5,7 bps ke level 5,256%.
Menurut Erwin, BI juga akan melanjutkan optimalisasi kebijakan untuk memastikan efektivitas kebijakan suku bunga acuan berikut transmisinya ke suku bunga di pasar, serta terkait penambahan likuiditas. (jea)