BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (9/10/2026), menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) imbas meredanya ketegangan antara AS dan Iran.
Berdasarkan data transaksi antarbank di Jakarta atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, kurs rupiah dibuka menguat 0,11% atau 19 poin menjadi Rp17.896 per dolar AS dari level sebelumnya Rp17.915 per dolar AS.
Hingga pukul 12:00 WIB, rupiah terus melanjutkan penguatan, terpantau berada di level Rp17.863, naik 0,29% atau 52 poin dari level Rp17.915 pada penutupan perdagangan Kamis (8/10/2026).
Sementara nilai tukar rupiah di pasar spot hari ini dibuka melemah 0,04% di Rp17.905 per dolar AS, namun kemudian berbalik menguat ke level Rp17.890 per dolar AS.
Penguatan rupiah dipicu tekanan eksternal yang mereda, seiring penurunan harga minyak dunia, indeks dolar AS, dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS atau US Treasury.
Pernyataan Presiden AS, Donald Trump, bahwa pihaknya tidak akan menyerang Iran sebelum Pemilihan Umum (Pemilu) paruh waktu membuat harga minyak dunia terkoreksi.
Harga minyak dunia jenis Brent yang menjadi acuan global terpangkas 0,4% ke US$103,86 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,16% ke US$91 per barel.
Penurunan harga minyak dunia, dan menurunnya ekspetasi kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) membuat indeks dolar AS terpangkas 0,02% ke 102,12.
Hal itu, juga berdampak pada yield US Treasury yang turut terpangkas 6,1 basis poin (Bps) ke 5,22%, setelah sempat melonjak karena kekhawatiran lonjakan inflasi.
Perkembangan terbaru dari ketegangan AS-Iran yang mereda, serta terkoreksinya aset dalam denominasi dolar AS, membuat pasar keuangan emerging market hari ini bergairah.
Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia dibuka menguat terhadap dolar AS, antara lain Baht Thailand, Peso Filipina, Dolar Singapura, Won Korea Selatan, Ringgit Malaysia, Yuan Tiongkok, dan Yen Jepang.
Penurunan yield US Treasury juga berdampak pada pasar obligasi Asia, antara lain yield obligasi Jepang turun 5,1 bps jadi 3,02%, Australia turun 6,3 bps jadi 5,32%, dan Selandia baru turun 6 bps jadi 5,03%.
Di pasar obligasi dalam negeri, yield Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi dolar AS juga turun 3,6 bps menjadi 6,24%. Meski demikian, SUN dalam rupiah masih tertekan dengan kenaikan yield sebesar 2,5 bps jadi 7,2% untuk tenor 10 tahun.
Pada perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak variatif dengan kecenderungan menguat terbatas di kisaran level Rp17.850 per dolar AS hingga Rp17.950 per dolar AS. (Jea)


