BRIEF.ID – Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks global yang digunakan dana investasi pasif di seluruh dunia, mengusulkan perubahan cara menghitung free float (jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik).
Selama ini, free float dihitung berdasarkan aturan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang hanya memperhitungkan kepemilikan di atas 5%. MSCI ingin memakai data yang lebih rinci dari Monthly Holding Composition Report (MHCR) milik Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), yang mencakup pemegang saham kurang dari 5%.
Hal ini memunculkan kekhawatiran pelaku pasar, yang menduga bahwa perubahan ini bisa menurunkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets karena free float banyak saham RI cenderung kecil.
Selain itu, perubahan MSCI berpotensi memicu tekanan jual oleh investor asing atas saham dengan free float rendah karena dana indeks harus menurunkan porsi sesuai bobot baru. Beberapa analis memperkirakan potensi outflow dana global lebih dari US$ 2 miliar jika perubahan diterapkan
Riset Phintraco Sekuritas yang dirilis Sabtu (24/1/2026), menyebutkan ada sejumlah hal yang mendukung penerapan MSCI di BEI.
Pertama, metodologi lebih ketat untuk saham baru. MSCI akan menerapkan aturan baru yang membuat saham yang baru masuk indeks dihitung dengan cara lebih konservatif, sehingga bobot awalnya di indeks akan relatif lebih kecil dibandingkan dengan perhitungan sebelumnya.
Kedua, Foreign Inclusion Factor (FIF) dihitung secara lebih konservatif
MSCI memperketat cara menghitung FIF yaitu faktor yang menentukan berapa besar porsi saham yang dapat dimiliki dan diperdagangkan oleh investor asing.
Apabila FIF turun, maka bobot saham tersebut di indeks akan mengecil sehingga berpotensi memicu penyesuaian portofolio oleh investor yang mengikuti indeks.
Ketiga, Free float berdasarkan data KSEI. MSCI berencana memperbarui perhitungan free float dengan mengacu pada laporan dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai sumber data tambahan.
Dalam hal ini, MSCI menyusun dua skenario perhitungan baru, yakni proposed methodology dan alternate methodology.
Pada skenario proposed methodology, MSCI menghitung script shares atau saham yang tidak dilaporkan di KSEI, kepemilikan korporasi lokal dan asing, serta kategori others lokal dan asing sebagai saham non-free float.
Dampaknya, sejumlah saham berkapitalisasi besar mengalami penurunan free float. Sementara itu, pada skenario alternate methodology, MSCI hanya mengkategorikan script shares dan kepemilikan korporasi sebagai saham non-free float. Penurunan free float pada skenario ini relatif lebih terbatas dibanding skenario pertama.
Apabila MSCI menerapkan perubahan metodologi ini, maka akan berpotensi menciptakan volatilitas yang cukup tinggi di pasar dalam jangka pendek, terutama terhadap saham-saham yang memiliki eksposure untuk masuk indeks MSCI. (nov)


