BRIEF.ID – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menargetkan akan menyalurkan investasi hingga US$ 14 miliar sepanjang tahun 2026 menciptakan geliat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dana US$ 14 miliar yang bersumber dari dividen portofolio Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah dimiliki Danantara dan dukungan lewat penerbitan obligasi (Patriot Bonds). Jumlah ini naik signifikan dibandingkan komitmen investasi Danantara, pada tahun sebelumnya yang sekitar US$ 8 miliar.
Ada pun target investasi Danantara adalah sektor energi terbarukan dan transisi energi; infrastruktur digital; layanan Kesehatan; ketahanan pangan dan agrikultur; pasar modal dan pasar publik; serta ekspansi ke luar negeri, termasuk di negara-negara seperti Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, dan Eropa sebagai peluang investasi baru.
Laporan Phintraco Sekuritas yang dirilis Senin (26/1/2026) menyebutkan, IHSG akan bergerak pada resistance 9.050, pivot 8.950, dan support 8.850. Saham-saham yang diunggulkan pada perdagangan pekan ini, di antaranya BSDE, CTRA, BRIS, ULTJ, DKFT, dan MAPA.
Investor juga menantikan pengumuman metodologi perhitungan free float saham oleh MSCI, pada Jumat (30/1/2026). Diperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran 8.850-9.050, sebelum menentukan arah selanjutnya. Jika IHSG mampu ditutup di atas level 9050, maka berpotensi akan melanjutkan rebound.
Sementara itu, indeks di bursa Wall Street ditutup mixed pada perdagangan Jumat (23/1/2026), namun tetap ditutup melemah pada pekan lalu. Meskipun ketegangan perang dagang AS-Eropa mereda, namun masih terdapat ketidakpastian mengenai Greenland. Presiden AS Donald Trump menambah ketegangan politik dengan memberikan sanksi baru dan mengisyaratkan potensi aksi militer terhadap Iran.
Hal ini mendorong kenaikan harga minyak mentah pada Jumat (23/1/2026). Harga perak menguat di level tertinggi baru sebesar US$ 100,49 per troy ons dan harga emas menguat hingga US$ 4.988 per troy ons. Sementara itu dari earning season, Intel melaporkan kinerja dan prospek yang mengecewakan pasar.
Pada pekan ini ,investor akan mencermati hasil pertemuan The Fed yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5%-3,75%.
Dari lantai bursa di Wall Street, investor akan menantikan laporan kinerja keuangan dari beberapa saham teknologi besar, untuk menilai bagaimana prospek saham sektor teknologi dan AI.
Data ekonomi yang akan dicermati investor diantaranya data durable goods orders dan PPI dari AS, serta data pertumbuhan ekonomi dari Euro Area. Dari Tiongkok akan dirilis data PMI. (nov)


