BRIEF.ID – Tahun 2026 dinilai menjadi tahun transisi penuh disrupsi bagi ekonomi dunia, terutama akibat kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.
Hal ini merupakan rangkuman prediksi ekonomi dunia Tahun 2026 versi The Economist (The World Ahead 2026) dan World Economic Forum (WEF) berdasarkan Chief Economists Outlook pada dan Persiapan Davos 2026.
The Economist telah menerbitkan The World Ahead 2026 pada akhir 2025, dengan tema tahun penuh ketidakpastian akibat kebijakan Donald Trump.
Sementara WEF belum merilis Global Risks Report 2026, namun prediksi terkini berasal dari Chief Economists Outlook (September 2025) dan persiapan Davos 2026 dengan tema A Spirit of Dialogue, yang menekankan kolaborasi di tengah fragmentasi global.
Keduanya sama-sama menerbitkan prediksi terkait outlook ekonomi keseluruhan, geopolitik, ekonomi global, teknologi inovasi, lingkungan dan iklim, risiko utama, optimistis, dan fokus lain terkait beberapa even dunia, yang berlangsung pada tahun 2026.
Berikut perbandingan utama presikdei The Economist dan WEF:
1. Outlook Keseluruhan
The Economist:
Tahun ketidakpastian tinggi, kebijakan Trump masih menjadi pusat perhatian global, mengubah bentuk norma geopolitik, diplomasi, dan perdagangan.
WEF:
Ekonomi global melemah (72% chief economists memprediksi pelemahan ekonomi di 2026), era baru disrupsi struktural (perdagangan, teknologi, sumber daya, dan institusi)ns).
2. Geopolitik
The Economist:
Trump menyebabkan masalah bagi Eropa (pertahanan & perdagangan), tapi peluang bagi Tiongkok. Tatanan dunia baru semakin jelas.
WEF:
Fragmentasi geopolitik intensif, perbedaan pertumbuhan antara ekonomi maju dan berkembang, erosi kepercayaan, dan kompetisi geopolitik melemahkan institusi global.
3. Ekonomi Global
THE Economist:
Risiko krisis pasar obligasi karena negara kaya “living beyond means”; growth AS melambat akibat tarif Trump; outlook tidak cerah
WEF:
Pelemahan pertumbuhan, disrupsi trade tinggi (efek tarif Trump), divergensi regional (bright spots: MENA, South Asia), dan kerentanan utang meningkat.
4. Teknologi & Inovasi
The Economist:
Kemajuan positif dari kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), obat penurun berat badan (GLP-1 lebih murah & pil), energi geothermal, video games, dan misi luar angkasa.
Sebagai catatan, GLP-1 (Glucagon-Like Peptide-1) adalah hormon alami di usus yang dilepaskan saat makan. Fungsi utama GLP-1 adalah merangsang produksi insulin (menurunkan gula darah), dan menekan nafsu makan dan memperlambat pengosongan lambung (membantu rasa kenyang lebih lama).
WEF:
Disrupsi teknologi (AI cepat), potensi produktivitas tinggi tapi risiko bubble, fokus pada quantum tech & agentic AI untuk transformasi ekonomi.
5. Lingkungan & Iklim
The Economist:
Emisi global mungkin sudah memuncak, teknologi bersih booming di Global South.
WEF:
Risiko lingkungan sistemik (nature loss), transisi ke nature-positive models bisa unlock 10ntroliun dollar AS, kolaborasi swasta dan masyarakat untuk resiliensi iklim.
6. Risiko Utama
The Economist:
Ketidakpastian geopolitik & ekonomi dari Trump; potensi krisis bond-market.
WEF:
Misinformation/disinformation, societal polarization, inequality, cyber risks, trade disruption, debt burdens.
7. Optimistis
The Economist:
Ada peluang di teknologi dan iklim, tapi risiko dominan.
WEF:
Divergensi: negara berkembang atau merging markets (MENA, South Asia) mengalami pertumbuhan yang kuat, panggilan untuk kolaborasi dan dialog untuk mengubah tantangan jadi solusi.
8. Fokus Lain
The Economist:
Even Piala Dunia 2026 kemungkinan bermasalah, begitu juga budaya, prediksi superforecasters.
WEF:
Brain economy (human potential di era AI), quantum economy, resiliensi workforce.
Dari prediksi tersebut, kedua institusi melihat 2026 sebagai tahun transisi penuh disrupsi, terutama akibat kebijakan tarif Trump, fragmentasi trade, dan ketegangan geopolitik. Risiko ekonomi (debt, slowdown) dan peluang teknologi AI menjadi tema bersama.
Meski demikian, The Economist lebih spesifik pada dampak Trump (sentral & transaksional), dengan nada skeptis terhadap outlook global.
Sedangkan WEF lebih multilateral, menekankan risiko jangka panjang (misinformation, polarization) dan panggilan optimis untuk dialog & kolaborasi guna bangun resiliensi.
Selain itu, prediksi WEF cenderung berbasis survey chief economists & experts global, sementara The Economist lebih naratif jurnalistik dengan analisis mendalam. (jea)


