BRIEF.ID – Sedikitnya 47 orang tewas dan lebih dari 112 orang luka-luka, umumnya mengalami luka bakar dalam kebakaran hebat yang melanda bar dan klub malam Le Constellation di kota resor ski Crans-Montana, Pegunungan Alpen, Swiss, saat pesta Tahun Baru 2026.
Kebanyakan korban adalah pengunjung yang sedang merayakan pesta Tahun Baru 2026, termasuk warga lokal dan wisatawan asing dari sejumlah negara Eropa.
Penyelidikan awal menunjukkan api kemungkinan besar dipicu oleh kembang api kecil atau senter kembang api yang terlalu dekat dengan langit-langit bar, yang kemudian menyulut bahan mudah terbakar di atas kepala pengunjung. Api menyebar sangat cepat sehingga banyak orang terjebak dalam ruangan yang ramai dan jalur keluar yang sempit.
Pemerintah Swiss menyatakan insiden ini sebagai salah satu tragedi terburuk dalam beberapa dekade terakhir dan melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pastinya serta mengevaluasi standar keselamatan di venue umum.
Presiden Swiss Guy Parmelin menggambarkan kebakaran itu sebagai “salah satu tragedi terburuk yang pernah dialami negara itu” dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Ia mengatakan bendera di Istana Federal akan diturunkan selama lima hari sebagai tanda berkabung nasional. Presiden Dewan Negara Bagian Valais, Mathias Reynard, menyebut proses identifikasi yang dilakukan “sangat tidak manusiawi” bagi keluarga.
Bar Le Constellation, yang dimiliki pasangan berkebangsaan Prancis, memiliki kapasitas 300 orang ditambah teras untuk 40 orang.
Ambulans dan tim darurat masih berada di lokasi kejadian sementara pihak berwenang terus menyelidiki penyebab kebakaran.
Para pejabat Eropa telah menyatakan solidaritas dengan Swiss. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan Uni Eropa berdiri “dalam solidaritas penuh” dengan negara itu, sementara kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas, Menteri Luar Negeri Belgia Maxime Prevot, dan Perdana Menteri (PM) Belanda Dick Schoof menyuarakan dukungan untuk para korban dan keluarga mereka.
“Insiden ini sebagai tragedi yang “belum pernah terjadi sebelumnya,” kata PM Schoof. (nov)


