BRIEF.ID – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meminta Rusia dan Amerika Serikat (AS) kembali ke meja perundingan untuk mencapai kesepakatan pengurangan dan pembatasan senjata nuklir setelah berakhirnya perjanjian New START, pada 5 Februari 2026.
Guterres menyebut berakhirnya perjanjian sebagai “momen genting” karena berpotensi menimbulkan perlombaan senjata nuklir yang tidak terkendali.
“Dunia saat ini menaruh harapan terhadap Federasi Rusia dan Amerika Serikat untuk menerjemahkan kata-kata menjadi tindakan,” kata Guterres dalam sebuah pernyataan yang dirilis Kamis (5/2/2026).
“Saya mendesak kedua negara untuk segera kembali ke meja perundingan dan menyepakati kerangka kerja pengganti sehingga mengembalikan batasan yang dapat diverifikasi, mengurangi risiko, dan memperkuat keamanan bersama kita,” imbuhnya.
Sebelumnya pada Rabu (4/2/2026), Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan Rusia berpegang pada posisi bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis Baru (New START) tidak lagi terikat oleh kewajiban dan deklarasi simetris apa pun setelah berakhirnya perjanjian itu.
Pada September 2025, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa Rusia siap untuk terus mematuhi pembatasan yang ditentukan dalam Perjanjian New START selama satu tahun setelah 5 Februari 2026.
Dia menjelaskan bahwa langkah-langkah untuk mematuhi pembatasan dalam perjanjian itu akan efektif jika AS melakukan hal serupa. Sementara, Presiden AS Donald Trump menyebut usulan Putin sebagai ide yang bagus. (nov)


