BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di sepanjang pekan depan di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi masih dipengaruhi tekanan jual yang dilakukan investor asing.
Riset Phintraco Sekuritas yang dirilis Sabtu (24/1/2026) menyebutkan bahwa IHSG akan bergerak pada resistance 9.050, pivot 8.950, dan support 8.850. Saham-saham yang diunggulkan di antaranya BSDE, CTRA, BRIS, ULTJ, DKFT, dan MAPA.
Sementara itu, IHSG ditutup melemah di level 8.951,01 atau turun 0,46%) pada perdagangan, Jumat (23/1/2026). Pelemahan IHSG, antara lain dipicu antisipasi penerapan metodologi MSCI untuk penghitungan free-float saham-saham Indonesia yang dikhawatirkan akan berdampak pada tekanan jual oleh investor asing, terutama terhadap saham-saham yang mayoritas dimiliki oleh institusi atau konglomerasi. Namun beberapa saham ditutup rebound, sehingga pelemahan IHSG berkurang.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memutuskan mempertahankan Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) simpanan rupiah pada bank umum di level 3,5%, Jumat (23/1/2026). TBP simpanan rupiah pada BPR di level 6% dan TBP simpanan valas bank umum di level 2%, yang berlaku mulai 1 Februari 2026 hingga 31 Mei 2026.
Secara teknikal, tekanan jual pada beberapa saham dengan kapitalisasi besar telah mendorong indikator MACD IHSG mengalami Death Cross. Stochastic RSI mengarah ke area oversold.
IHSG ditutup di bawah MA5, namun masih di atas level MA20 dan MA50, setelah sempat menembus level MA20 pada perdagangan intraday. Sehingga diperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran 8.850-9.050, sebelum menentukan arah selanjutnya. Jika IHSG mampu ditutup di atas level 9.050, maka berpotensi akan melanjutkan rebound.
Mayoritas indeks bursa Asia ditutup menguat, pada Jumat (23/1/2026), seiring dengan keputusan Bank of Japan yang mempertahankan suku bunga acuan tetap pada level 0,75% menjelang pemilu sela pada 8 Februari 2026 mendatang.
Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Jepang dengan tenor 40 tahun turun 4 bps ke level 3,953%, namun obligasi dengan tenor lebih pendek mengalami kenaikan. HSBC memperkirakan Bank of Japan (BoJ) akan menaikkan suku bunga sebesar 25 bps di Juli 2026, jika Yen Jepang berlanjut melemah berpotensi akan ada lebih banyak kenaikan suku bunga dengan waktu yang lebih cepat.
Bank of Japan menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang pada level 0,9% untuk tahun fiskal 2025 dan 1% untuk tahun fiskal 2026 dari proyeksi sebelumnya masing-masing sebesar 0,7%. (nov)


