BRIEF.ID – Indeks di Wall Street New York, Amerika Serikat (AS) bergairah dan ditutup menguat, pada perdagangan, Rabu (18/2/2026).
Risalah terbaru hasil pertemuan The Fed mengisyaratkan kemungkinan dilakukan kenaikan suku bunga di masa mendatang untuk memerangi inflasi.
Indeks sebelumnya menguat signifikan, ditopang oleh pemulihan di sektor teknologi. Investor juga beralih ke saham dan menjual obligasi setelah data ekonomi yang kuat.
Risalah rapat The Fed, hari Rabu (18/2/2026) menunjukkan bahwa hampir semua peserta FOMC mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga dana federal tetap stabil di 3,50%-3,75% pada akhir Januari 2026.
Namun, pada diskusi tentang prospek kebijakan moneter, beberapa peserta FOMC menyatakan bahwa mereka akan mendukung deskripsi dua sisi untuk keputusan suku bunga di masa mendatang.
Deskripsi ini mencerminkan kemungkinan bahwa penyesuaian ke atas terhadap kisaran target untuk suku bunga dana federal dapat dianggap tepat jika inflasi tetap berada di atas tingkat target. Namun data CPI bulan Januari lebih rendah dari perkiraan dan investor akan menantikan indeks PCE prices hari Jumat untuk mencermati lebih jelas mengenai prospek inflasi di AS.
Imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun naik lebih dari 3 bps ke level 4,087%. Harga emas naik 1,7% di level US$ 4.957 per troy ons di pasar spot, pada Rabu (18/2/2026). Harga minyak naik lebih dari 4% pada Rabu setelah Wakil Presiden AS, JD Vance mengatakan Iran tidak menanggapi garis merah AS dalam pembicaraan nuklir minggu ini dan Presiden AS Donald Trump berhak menggunakan kekuatan militer jika negosiasi gagal. (nov)


