Perang Timur Tengah, IHSG Diprediksi Bakal Terkoreksi

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (3/3/2026) diprediksi bakal terkoreksi sebagai imbas perang di Timur Tengah, yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran. AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah pejabat tinggi di negara itu.

Di sisi lain,  IHSG anjlok 2,66% atau terpangkas 218 poin ke level 8.016,83 pada penutupan  perdagangan di BEI, Senin (2/3/2025).

“Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level psikologis 8.000 dan masih di atas level MA200. Namun penyempitan histogram positif MACD berlanjut dan berpotensi membentuk Death Cross. Jika IHSG breaklow level 8.000, diperkirakan berpotensi menguji level support berikutnya di 7.860-7.900,” demikian hasil riset Phintraco Sekuritas yang dirilis Selasa (3/3/2026).

Disebutkan, IHSG akan bergerak di level resistance 8.150, pivot 8.000, dan support  7.900.  Saham-saham yang diunggulkan, di antaranya ANTM, ESSA, PTBA, LSIP, dan INDY.

Riset itu menyatakan, serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026) memicu perang terbuka dan membuat investor global cenderung menghindari aset-aset yang berisiko.

Kenaikan harga minyak mentah memicu kekhawatiran terkait potensi meningkatnya inflasi yang jika berlangsung lama dapat mendorong potensi kenaikan suku bunga. Namun mayoritas saham-saham  energi dan tambang emas membukukan penguatan, sehingga menahan pelemahan IHSG lebih lanjut. Rupiah di pasar spot ditutup melemah di level Rp16.868 per Dolar AS, sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang di Asia.

Dari data ekonomi di dalam negeri, data inflasi meningkat 0,68% MoM di Februari 2026 dari deflasi 0,15% MoM, pada Januari 2026. Inflasi ini terutama dikontribusikan oleh kenaikan Kelompok Pengeluaran Makanan, Minuman dan Tembakau.

Secara umum, kelompok pengeluaran ini menjadi komoditas penyebab utama andil inflasi di setiap momen Ramadan. Inflasi tahunan berakselerasi menjadi 4,76% YoY di Februari 2026 dari 3,55% YoY, serta merupakan level tertinggi sejak Maret 2023. Kenaikan ini disebabkan  adanya diskon tarif listrik pada awal tahun 2025 telah menekan harga tahun lalu.

Surplus neraca perdagangan turun menjadi US$ 0,95 miliar di Januari 2026 dari US$ 3,49 miliar pada Januari 2025, akibat kenaikan impor sebesar 18,21% YoY dan ekspor hanya tumbuh 3,39% YoY. Manufacturing PMI Indonesia masih tumbuh di level 53,8 pada Februari 2026 dari 52,6 di Januari 2026, terutama karena kenaikan permintaan di dalam negeri.  (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Indonesia Daily Brief (March 3, 2026)

TOP NEWS The Guardian — Trump expressed that the US...

Investor Khawatir Perang Iran, Harga Minyak Naik Tajam

BRIEF.ID – Harga minyak naik tajam  pada  Senin (2/3/2026)...

Rupiah Tertekan ke Level Rp16.800 per Dolar AS, BI Pastikan Intervensi Jaga Stabilitas Mata Uang Garuda

BRIEF.ID - Nilai tukar (kurs) rupiah pada perdagangan hari...

IHSG Sesi I Perdagangan Hari Ini Ditutup Anjlok 1,60% Imbas 645 Saham Turun Harga

BRIEF.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa...