BRIEF.ID – Riset Phintraco Sekuritas mengungkapkan risalah terbaru Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed yang menyoroti dilema kebijakan moneter di tengah tingginya ketidakpastian global akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Di satu sisi, terdapat kekhawatiran atas pelemahan ekonomi domestik, khususnya pada pasar tenaga kerja. Mayoritas pejabat menilai bahwa perang berpotensi menekan penciptaan lapangan kerja, yang secara teoritis dapat membuka ruang bagi penurunan suku bunga.
Di sisi lain, terdapat kekhawatiran sejumlah pejabat The Fed terkait potensi inflasi yang meningkat ke level yang lebih tinggi seiring kenaikan harga energi.
Kenaikan harga energi dalam jangka waktu yang lama akan sangat sulit bagi The Fed untuk menjaga inflasi tetap berada di atas target 2% dalam jangka waktu yang lebih lama.
Sebagai hasilnya beberapa pejabat mulai mendorong pendekatan kebijakan yang lebih dua arah, yaitu membuka kemungkinan tidak hanya penurunan, tetapi juga kenaikan suku bunga apabila inflasi terbukti meningkat lebih tinggi dari yang diperkirakan.
Menariknya, perbedaan pandangan ini relative berbeda dengan pertemuan sebelumnya yang dimana pada pertemuan sebelumnya cenderung lebih hawkish.
Sikap wait and see menjadi pilihan rasional dalam kondisi saat ini di tengah ketidakpastian yang relatif tinggi tinggi baik dari sisi geopolitik maupun kondisi perekonomian domestik. Dari sisi pasar tenaga kerja, meskipun tingkat pengangguran diperkirakan relatif stabil akan tetapi terdapat kekhawatiran bahwa kondisi saat ini belum cukup solid.
“Secara keseluruhan, kami melihat posisi The Fed saat ini berada dalam kondisi dilematis, ekspetasi inflasi yang tinggi akan membatasi ruang pelonggaran, sementara risiko pelemahan ekonomi akan berpotensi menahan langkah The Fed dalam melakukan kebijakan yang ketat,” demikian riset Phintraco Sekuritas yang dikutip Jumat (10/4/2026). (nov)


