Pencabutan Izin 28 Perusahaan Sektor Kehutanan Berdampak IHSG Rawan Terkoreksi

BRIEF.ID – Keputusan Presiden Prabowo Subianto mencabut izin 28 perusahaan sektor keuangan diperkirakan masih mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (22/1/2026).

Pencabutan ini  selain menjadi sentimen negatif bagi emiten-emiten terkait seperti UNTR dan INRU, juga  dapat menimbulkan risiko hukum dan operasional, termasuk terganggunya kelangsungan kegiatan usaha.

IHSG yang diperkirakan bergerak pada resistance 9.000, pivot 8.950

support 8.900 disebut-sebut masih rawan terkoreksi seiring maraknya aksi provit taking yang dipengaruhi sentiment global. Saham-saham yang diunggulkan  INCO, MEDC, EXCL, BRIS, dan HRUM.

“IHSG terkoreksi ke level 9.010,330 atau turun  1,36% pada perdagangan Rabu, 21 Januari 2026, dipicu aksi profit taking setelah indeks mencetak rekor tertinggi pada sesi sebelumnya,” demikian hasil riset  Phintraco Sekuritas yang dirilis Kamis (22/1/2026).

Disebutkan, sentiment negatif  diperkuat  memburuknya sentimen domestik menyusul keputusan Presiden Prabowo Subianto  mencabut izin 28 perusahaan di sektor kehutanan, perkebunan, energi, dan pertambangan akibat pelanggaran lingkungan.

Tekanan jual berlangsung lintas sektor, dengan sektor industri turun  6,33%, properti (-3,44%), dan transportasi (-3,04%) menjadi penekan utama pergerakan indeks.  

Secara teknikal, IHSG ditutup di bawah MA5, disertai penyempitan area positif MACD serta stochastic RSI yang bergerak turun dari area overbought, sehingga membuka peluang lanjutan koreksi dengan potensi pengujian area support di kisaran 8.950–9.000.

Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia (BI)  mempertahankan BI Rate di level 4,75%  sesuai ekspektasi pasar dan belum mampu menjadi katalis penahan koreksi, mengingat fokus kebijakan moneter saat ini lebih diarahkan pada stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan sentimen global, khususnya pidato Presiden AS Donald Trump di World Economic Forum  (WEF) di Davos, serta rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) AS yang diperkirakan tumbuh sebesar 4,3% QoQ pada Kuartal III-2025.

Kondisi ini menegaskan bahwa momentum pertumbuhan ekonomi AS tetap solid, terutama ditopang oleh penguatan konsumsi rumah tangga yang berkelanjutan, pemulihan aktivitas ekspor, serta ekspansi belanja pemerintah yang kembali memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan. (nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Stress Test Daya Tahan Sistem Keuangan

BRIEF.ID - Sebenarnya, Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa...

Trump Batal Berlakukan Tarif 10%, Indeks Wall Street Ditutup Menguat

BRIEF.ID –  Indeks di bursa Wall Street New York,...

Daya Tahan Ekonomi Indonesia Tetap Kuat Hadapi Pelemahan Rupiah

BRIEF.ID - Pertanyaan tentang level “ambruk” ekonomi Indonesia adalah...

Dipengaruhi Sentimen Pasar Global, IHSG Terseret ke Zona Merah

BRIEF.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terseret ke...