BRIEF.ID – Nilai tukar (kurs) rupiah dibuka merosot hingga menyentuh level Rp16.900 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring berkurangnya peminat lelang Surat Utang Negara (SUN).
Berdasarkan data transaksi antarbank hari ini, Kamis (19/2/22026), kurs rupiah dibuka melemah 0,03% di level Rp16.880 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.875 per dolar AS.
Sementara di pasar spot, nilai tukar rupiah terkoreksi 0,2% menjadi Rp16.917 per dolar AS. Hingga pukul 11:00 WIB, nilai tukar rupiah terpantau berada di level Rp16.931 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan dolar AS, setelah pemerintah mengumumkan solidnya data pertumbuhan ekonomi di kisiaran 2,7% sepanjang Tahun 2025.
Meski penciptaan lapangan kerja cenderung stagnan, dan konsumsi rumah tangga resilien, gelombang investasi berbasis kecerdasan buatan cukup menopang perekonomian AS.
Kenaikan indeks dolar AS diikuti oleh US Treasury yang kembali diburu investor, sehingga arus modal keluar (capital outflow) dari emerging market termasuk Indonesia terus terjadi.
Hal itu, terlihat dari berkurangnya minat investor terhadap lelang SUN kemarin, di mana total penawaran yang masuk mencapai Rp63,06 triliun, turun 17,66% dibandingkan sebelumnya sebesar Rp76,59 triliun.
Sentimen negatif bagi rupiah juga datang dari Jepang, seiring sorotan investor terhadap pergantian Gubernur Bank Sentral AS. Perdana Menteri Sanae Takaichi kemungkinan akan mengusulkan pengganti dalam sidang parlemen Jepang paling cepat pada 25 Februari 2026.
Untuk perdagangan hari ini, nilai tukar rupioah diprediksi melemah terbatas dengan bergerak di kisaran level Rp16.700 per dolar AS hingga Rp16.950 per dolar AS. (jea)


