BRIEF.ID – Pemimpin umat katolik Paus Leo XIV menyerukan masyarakat internasional agar berkehendak baik, selalu mencari perdamaian, dan menolak perang. Ia meminta semua pihak yang bertikai agar kembali ke meja perundingan, mencari solusi damai, dan menyatakan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil bertentangan dengan hukum internasional.
Paus Leo memperbarui seruan untuk perdamaian dalam pernyataan singkat yang disampaikan di Villa Barberini, kediaman Paus di Castel Gandolfo, Takhta Suci Vatikan, Selasa (7/4/2026) malam.
Pernyataan itu mengemuka di tengah perang AS-Israel melawan Iran serta ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menghancurkan “seluruh peradaban Iran” jika Teheran tidak mematuhi tenggat waktu yang ditetapkan Gedung Putih, untuk mencapai kesepakatan membuka kembali Selat Hormuz.
Sri Paus mengatakan, apa yang telah dikatakan dalam pesan Urbi et Orbi-nya pada hari Minggu (5/4/2026), yang “meminta semua pihak yang berkehendak baik untuk selalu mencari perdamaian dan bukan kekerasan, untuk menolak perang, terutama perang yang menurut banyak orang tidak adil, yang terus meningkat dan yang tidak menyelesaikan apa pun.”
Berbicara dalam bahasa Italia, Paus berkata, “Hari ini, seperti yang kita semua ketahui, juga ada ancaman terhadap seluruh rakyat Iran. Dan ini benar-benar tidak dapat diterima! Tentu ada masalah hukum internasional di sini, tetapi lebih dari itu, ini adalah pertanyaan moral yang menyangkut kebaikan rakyat secara keseluruhan.”
Paus tidak lupa menyoroti dampak luas dari konflik tersebut dan berkata, “Kita menghadapi krisis ekonomi global, krisis energi, dan situasi di Timur Tengah yang sangat tidak stabil, yang hanya memicu lebih banyak kebencian di seluruh dunia.”
Paus Leo mendesak, “Mari kita kembali ke meja perundingan. Mari kita bicara. Mari kita cari solusi dengan cara damai.”
Paus kemudian mengingatkan semua orang yang dirugikan secara tidak adil dalam konflik tersebut.
“Mari kita ingat, terutama, orang-orang yang tidak bersalah: anak-anak, orang tua, orang sakit, begitu banyak orang yang telah menjadi, atau akan menjadi, korban dari peperangan yang berkelanjutan ini—dan untuk mengingatkan semua orang bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil bertentangan dengan hukum internasional, dan bahwa itu juga merupakan tanda kebencian, perpecahan, dan kehancuran yang mampu dilakukan oleh manusia.”
Paus menegaskan kembali bahwa “kita semua ingin bekerja untuk perdamaian. Orang-orang menginginkan perdamaian,” dan menyerukan kepada semua orang untuk melakukan bagian mereka.
“Saya mengajak warga dari semua negara yang terlibat untuk menghubungi pihak berwenang—para pemimpin politik, anggota kongres—untuk bertanya kepada mereka, untuk memberi tahu mereka, untuk bekerja demi perdamaian dan untuk menolak perang dan kekerasan. Terima kasih banyak,” kata Paus. (Vatican News/nov)


