BRIEF.ID – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) membantu pemulangan 2.837 pekerja migran yang melakukan mudik Idul Fitri 1446 Hijriah ke Tanah Air. Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding mengungkapkan, dari 2.837 pekerja migran Indonesia (PMI), sekitar 80% melakukan mudik ke Tanah Air. Namun, berangkat secara non-prosedural.
“Dari data yang ada, lebih dari 80% non-prosedural, jadi 1.800-an. Prosedural hanya sekitar 69 orang,” kata Karding di Tangerang, Banten, Sabtu (29/3/2025).
Karding mengatakan akan tetap hadir memberikan pelayanan terhadap pekerja migran ilegal yang mudik. Edukasi juga diberikan kepada mereka agar paham prosedur mengikuti aturan yang berlaku, sehingga terhindar dari kejahatan internasional.
“Karena warga kita, kita layani semua. Kita, ya, kita bantu dalam konteks, satu memberi informasi, membantu ketika mereka turun, kemudian memberi informasi di sini, lalu kita tampung kadang-kadang (di shelter) kalau dia harus keluar kota dari Jakarta misalnya,” jelas dia.
Dia menambahkan, pemerintah dapat dengan mudah menyentuh masyarakat dengan jaminan kesehatan dan hukum jika kerja di luar negeri secara legal. Hal itu dikarenakan identitas pekerja migran Indonesia legal terdapat dalam sistem KemenP2MI, sehingga mudah untuk dijangkau.
Selain itu, mereka yang berangkat secara ilegal juga memperoleh sejumlah benefit, di antaranya fasilitas lounge khusus pekerja migran Indonesia di Terminal 3 Bandara Soetta. Lounge tersebut dapat diakses gratis hanya dengan menyebutkan identitas pekerja migran non prosedural.
“Enggak harus ada prosedur, yang penting di sana kan sudah ada ini tuh, apa namanya itu? Informasi panah dan sebagainya, dan petugas kita. Kalau dia sebenarnya terdaftar, mestinya paham. Mestinya paham apa? Lounge-nya, karena data-datanya ada, teleponnya,” ujar dia.
Ia menyampaikan sesuai komitmen pemerintah, pihaknya tidak pernah lelah untuk mengingatkan dan memberikan edukasi bagi para pekerja migran Indonesia yang masih nekat berangkat secara ilegal.
“Kalau misalnya ada yang kita cegah untuk berangkat, kita tanya, ‘kamu masih mau bekerja ke luar negeri nggak? Mau Pak, oke.’ Kita biasanya bantu, bantu lewat P3MI yang ada. Kita bantulah pokoknya,” kata dia. (Ant/nov)