BRIEF.ID – Pemberlakuan tarif impor terhadap 160 negara, yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengguncang pasar keuangan dan komoditas.
Bursa Saham AS atau Wall Street yang jadi acuan pasar saham dunia langsung rontok setelah Trump mengumumkan tarif impor baru, yang disebutnya merupakan tarif balasan untuk melindungi ekonomi AS.
Tiga indeks utama Wall Street jatuh ke level terendah selama lima tahun terakhir, karena investor khawatir tentang dampak ekonomi yang lebih luas.
Pasalnya, tarif impor tersebut dianggap menjadi sinyal perang dagang global, yang tak hanya menyasar Tiongkok sebagai rival utama AS.
Trump menyebut kebijakan tarif impor baru merupakan tarif resiprokal atau timbal balik yang menargetkan negara-negara dengan ketidakseimbangan perdagangan signifikan terhadap AS.
Tarif impor yang diberlakukan berkisar antara 10% hingga 50%. Indonesia dikenai kebijakan tarif impor AS sebesar 32%.
Berikut daftar barang utama yang diekspor Indonesia ke AS:
1. Mesin dan Peralatan Listrik termasuk komponen elektronik dan peralatan rumah tangga. Nilai ekspornya signifikan, diperkirakan mencapai miliaran dolar per tahun.
2. Pakaian dan Aksesori (Garmen), baik yang dirajut maupun tidak dirajut, seperti pakaian jadi dan tekstil.
3. Lemak dan Minyak Hewan/Nabati, terutama minyak kelapa sawit (CPO).
4. Alas Kaki (sepatu dan sandal), merupakan komoditas ekspor unggulan Indonesia ke AS dengan nilai yang stabil setiap tahun.
5. Produk Hewan Air, seperti udang, tuna, dan ikan lainnya, yang sangat diminati di pasar AS.
6. Karet dan Produk Karet, termasuk ban dan barang karet lainnya, dengan permintaan besar dari industri otomotif AS.
7. Briket Batubara dan Bahan Bakar Mineral, merupakan salah satu barang ekspor penting Indonesia ke AS pada 2024
8. Ferroalloy dan Gas Petroleum, merupakan komoditas tambang yang mulai menonjol dalam perdagangan Indonesia dengan AS.
9. Kopi, Teh, dan Rempah, merupakan produk pertanian yang konsisten diekspor, meskipun dalam volume yang tidak besar
Sementara barang atau komoditas utama yang diimpor Indonesia dari AS, antara lain:
1. Produk Pertanian dan Pangan Gandum, diimpor Indonesia dalam jumlah besar karena tidak memproduksi komoditas ini secara lokal. Gandum digunakan untuk industri makanan seperti roti dan mi.
2. Kedelai, merupakan bahan baku penting untuk produksi tahu dan tempe, diimpor dalam volume signifikan dari AS.
3. Jagung, digunakan untuk pakan ternak dan konsumsi, dengan Amerika sebagai salah satu pemasok utama.
4. Produk Olahan, termasuk daging sapi, ayam, dan makanan ringan yang populer di kalangan konsumen Indonesia.
5. Bahan Bakar dan Mineral, Gas, Petroleum dan Minyak, diimpor Indonesia untuk mendukung kebutuhan energi, meskipun memiliki produksi domestik.
6. Residu Industri Makanan, sering digunakan untuk pakan ternak atau bahan baku industri lainnya.
7. Mesin, Peralatan Mesin dan Peralatan Mekanik, termasuk mesin industri dan reaktor nuklir, yang mendukung sektor manufaktur dan infrastruktur.
8. Peralatan elektrik, seperti komponen teknologi canggih untuk industri elektronik.
9. Peralatan Medis, khususnya yang berkualitas tinggi seperti mesin diagnostik, alat bedah, dan peralatan laboratorium diimpor dari Amerika untuk rumah sakit dan klinik di Indonesia.
10. Produk Kimia dan Farmasi, bahan kimia industri dan obat-obatan yang mendukung sektor kesehatan dan berbagai industri lainnya.
11. Kendaraan dan Transportasi: Pesawat Terbang, diimpor Indonesia dari AS untuk mendukung sektor penerbangan domestik dan internasional.
13. Kapas, digunakan dalam industri tekstil untuk memenuhi kebutuhan produksi kain dan pakaian.
Berdasarkan data tersebut, maka setidaknya ada 9 komoditas utama ekspor Indonesia ke AS, sebaliknya ada 12 komoditas utama yang diiumpor Indonesia dari AS.
Dengan diberlakukannya tarif impor baru sebesar 32%, muncul pertanyaan apakah dampaknya bagi neraca perdagangan Indonesia dan AS.
Selama ini, neraca perdagangan Indonesia dengan AS mengalami surplus. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut ekspor Indonesia ke AS pada 2024 mencapai sekitar US$28,1 miliar. Sedangkan impor Indonesia dari AS diperkirakan sekitar US$10,2 miliar pada 2024.
Dengan demikian, terjadi surplus neraca perdagangan antara Indonesia dengan AS, sekitar US$17,9 miliar pada 2024.
Bagi Trump, surplus neraca perdagangan Indonesia dengan AS ini dianggap sebagai defisit, karena AS mengimpor lebih banyak daripada mengekspor ke Indonesia. Itu sebabnya, Indonesia dikenai tarif impor 32% yang diumumkan pada 2 April 2025.
Sebagai catatan, persentase perdagangan dengan AS terhadap total perdagangan Indonesia adalah sekitar 8,1% namun dengan kenaikan tarif impor terbaru sebanyak 32% tentunya berpotensi menurunkan volume dan nilai perdagangan.
Bagaimana Nasib IHSG?
Tak dapat dipungkiri kebijakan tarif Trump yang telah mengguncang Wall Street, akan berdampak negatif terhadap Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sedang libur Hari Raya Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah.
Pelaku pasar memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI akan tertekan cukup dalam, seperti yang terjadi pada 18 Maret 2025, ketika BEI memutuskan untuk menghentikan sementara perdagangan (trading halt).
Meski demikian, tekanan terhadap IHSG tidak akan parah, jika rasionalitas berinvestasi terkait pemikiran bahwa Trump sebetulnya memberi diskon 50% untuk setiap kenaikan tarif impor barang dari AS ke Indonesia.
Pasalnya tarif impor yan g diberlakukan Indonesia ke AS sesuai daftar yang dipaparkan Trump berada di kisaran 64%, dan tarif impor timbal balik yang diterapkan AS ke Indonesia sebesar 32% (diskon 50%).
Hanya saja kekhawatiran dan ketidakpastian masa depan ekonomi global akibat eskalasi perang dagang tampaknya akan mendominasi sentimen negatif, sehingga IHSG berpotensi kembali menguji level 6328.
Pembukaan perdagangan seusai libur bursa pada 8 April 2025 akan menentukan apakah IHSG akan kembali masuk fase bear market atau bearish yang bisa membuat IHSG jatuh 25% dari titik tertingginya sepanjang masa pada 7.910 ke kisaran level 5.932.
Lalu harus bagaimana menyikapi kondisi ini? Tenang saja, jika Anda memegang saham berfundamental solid dan tidak berhubungan langsung dengan tarif impor AS.
Jika Anda masih memiliki amunisi modal, justru kondisi ini menjadi momentum untuk mengoleksi saham-saham potensial ketika IHSG mendekati level 6.000 secara bertahap.
Jadi, keep calm, jangan bergaul sama yang suka menebar fear. Cukup ingat, angka 64% vs 32% itu tarif impor maksimal yang bisa dikenakan.
Edhi Pranasidhi
(Pengamat Pasar Modal dan mantan Senior Finance Journalist Dow Jones Newswires)