BRIEF.ID – Bursa saham Asia mengakhiri Maret 2026 dengan penurunan bulanan lebih dari 13%. Ini merupakan koreksi terburuk sejak 2020. Di tengah jatuhnya sektor energi sebesar 2,75%, sektor konsumer non-primer tampil sebagai juara dengan mencatat kenaikan sebesar 1,48%.
Harapan pasar atas terjadinya penurunan suku bunga The Fed sebesar 50 bps kini menguap.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terdampar di zona negatif pada perdagangan Selasa (31/3/2026) setelah mengalami penurunan 43 poin atau 0,61% ke level 7.048.
Sebanyak 263,6 juta lot saham tercatat sebagai volume perdagangan dengan membukukan nilai transaksi Rp14,44 triliun.
Saham-saham top gainers LQ45 adalah MBMA, INDF, AMRT, INCO, MAPI, CTRA, dan EXCL. Sedangkan saham-saham top losers LQ45 terdiri atas MEDC, BUMI, EMTK, BREN, JPFA, AADI, dan NCKL.
Indeks sektor saham konsumer non primer menjadi kampiun dengan kenaikan sebesar 1,48% yang didukung saham-saham INDF naik 6,72%, KLBF +3,19%, GGRM +3,11%, ICBP +1,73%, MLBI 1,35%, dan HMSP +0,69%.
Sementara itu, sektor energi tergerus 2,75%, yang ditandai pelemahan saham BIPI sebesar 6,74%, MEDC -5,44%, HRUM -5,12%, INDY -3,35%, ADRO -1,53%, dan ITMG -1,16%.
Bursa Asia
Pasar saham Asia menuju penurunan paling tajam dalam enam tahun pada perdagangan, Selasa (31/3/2026) sore. Ini mengakhiri bulan yang penuh gejolak karena perang di Timur Tengah memicu kekhawatiran akan inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat.
Indeks saham Asia terluas MSCI di luar Jepang turun 1,43%, dan berada di jalur penurunan bulanan lebih dari 13%, penurunan paling signifikan sejak Maret 2020.
Obligasi menuju penurunan terbesar dalam beberapa bulan, karena perubahan besar dalam prospek suku bunga global. Sementara dolar AS berada di ambang kenaikan terkuatnya dalam delapan bulan.
Sebulan setelah perang dimulai, investor terus diguncang oleh serangkaian berita utama karena ketegangan dan serangan antara AS, Israel, dan Iran meningkat.
“Tampaknya pasar telah beralih ke mode yang sedikit lebih diliputi rasa takut, mengurangi risiko. Pasar mulai khawatir atau takut akan konflik yang lebih berkepanjangan,” kata Vishnu Varathan, kepala riset makro Mizuho untuk Asia di luar Jepang seperti diberitakan Reuters.
Pasar sedikit lebih optimistis setelah The Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para pembantunya bersedia mengakhiri kampanye militer melawan Iran, bahkan jika Selat Hormuz sebagian besar tetap tertutup.
“Saya pikir inflasi akan menjadi kekhawatiran jangka pendek yang lebih besar bagi pasar global. Tetapi jika harga minyak tidak turun dalam beberapa bulan ke depan, kita mungkin harus mulai memikirkan pertumbuhan juga,” kata Thomas Mathews, kepala pasar untuk Asia-Pasifik di Capital Economics
Ancaman inflasi telah menyebabkan investor meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga di bank sentral utama tahun ini, yang pada gilirannya menghantam obligasi.
Federal Reserve kini diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap tahun ini, dibandingkan dengan pelonggaran lebih dari 50 basis poin yang diperkirakan sebelum dimulainya perang. Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bank sentral AS dapat menunggu untuk melihat bagaimana perang Iran memengaruhi ekonomi dan inflasi, mencatat bahwa para pembuat kebijakan biasanya mengabaikan guncangan seperti yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak.
Indeks Saham Asia dan Australia
Nikkei225 (Jepang) turun 1,58% ke 51.063
Topix (Jepang) turun 1,26% ke 3.497
Shanghai (Tiongkok) turun 0,80% ke 3.891
Shenzhen Composite (Tiongkok) turun 1,81% ke 13.478
CSI 300 (Tiongkok) turun 0,93% ke 4.450
Hang Seng (Hong Kong) naik 0,15% ke 24.788
Indeks Kospi (Korea Selatan) turun 4,26% ke 5.052
Indeks Taiex (Taiwan) turun 2,45% ke 31.722
ASX200 (Australia) +0,25% ke 8.481
Mata Uang Asia
Yen naik 0,06% menjadi 159,62 per Dolar AS
SGD melaju 0,06% menjadi 1,2902 per Dolar AS
AUD naik 0,07% ke posisi 0,6858 per Dolar AS
Rupiah turun 0,23% menjadi 17.041 per Dolar AS
Rupee stagnan 0,00% ke 94,8112 per Dolar AS
Yuan melaju 0,08% ke 6,9069 per Dolar AS
Ringgit anjlok 0,37% ke 4,0463 per Dolar AS
Baht melemah 0,28% ke 32,896 per Dolar AS
Bursa Eropa
Market saham Eropa berfluktuasi pada perdagangan awal Selasa (31/3/2026) dan berada di jalur untuk mencatat kinerja bulanan terburuk dalam enam tahun terakhir, karena ketidakpastian mengenai arah perang Iran masih berlanjut.
Indeks pan-Eropa Stoxx 600 naik sekitar 0,2%, setelah sempat turun ke wilayah negatif setelah bel pembukaan. Sektor regional dan bursa utama sebagian besar berada di zona hijau.
Meskipun sempat pulih sebagian pada Selasa pagi, indeks Stoxx 600 diperkirakan akan mengalami penurunan bulanan sebesar 8,5% untuk bulan Maret, yang akan menandai kerugian bulanan terbesar sejak awal tahun 2020.
Pada Selasa pagi, indeks Stoxx 600 diperkirakan akan mengalami penurunan bulanan sebesar 8,5% untuk bulan Maret, yang akan menandai kerugian bulanan terbesar sejak awal tahun 2020. Ketika pandemi Covid-19 memaksa perekonomian di seluruh Eropa untuk melakukan penguncian wilayah (lockdown).
Harga Minyak
Harga minyak berfluktuasi pada perdagangan, Selasa (31/3/2026) sore karena investor mempertimbangkan kemungkinan Presiden AS Donald Trump mengakhiri perang melawan Iran. Keinginan ini untuk mengatasi guncangan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan, jalur utama bagi aliran minyak global.
Minyak mentah Brent naik 65 sen menjadi US$ 113,43 per barel dalam sesi yang menunjukkan harga berfluktuasi antara kenaikan 2% dan penurunan 1%. Kontrak Mei berakhir pada hari Selasa dan kontrak Juni yang lebih aktif berada di US$ 107,31.
Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei naik 2 sen menjadi US$ 102,90 per barel setelah membalikkan penurunan sebelumnya dan mencapai level tertinggi sejak 9 Maret 2026.
Para analis seperti dikutip Reuters mengatakan harga sempat bereaksi terhadap gagasan berakhirnya perang, tetapi perubahan berarti tidak akan terwujud sampai pengiriman melalui Selat Hormuz sepenuhnya dipulihkan.
(D’Origin Interactive News/nov)


