Luky Yusgiantoro Ajak Generasi Muda Kobarkan Jiwa Patriot Rawat Keberagaman

BRIEF.ID –  Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (PP ISKA) mengajak generasi muda mengobarkan jiwa patriot dan merawat nilai-nilai keberagaman.

“Kami berharap para peserta mampu berjejaring lintas agama dan kepercayaan tanpa membedakan suku, ras, adat istiadat, dan golongan dari komunitas terdekat masing-masing seperti sekolah, universitas, RT, RW, dan sekitarnya,” kata Ketua Presidium PP ISKA Luky A. Yusgiantoro  di Jakarta, Minggu (30/7/2023).

Penegasan itu disampaikan Luky pada kegiatan Pendidikan Kader Kebangsaan Angkatan 1 bertempat di Universitas Katolik Indonesia Atmajaya Jakarta, Minggu (30/7/2023). Kegiatan yang  mengusung tema “Merdeka Dalam Keberagaman” diikuti sebanyak 50 peserta.

Hadir sebagai pemateri Prof Franz Magnis Suseno (Guru Besar STF Driyarkara), MM Restu Hapsari (Presidium Dialog Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan PP ISKA), Dr A. Setyo Wibowo (Dosen STF Driyarkara), dan Moh. Aan Anshori (Koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi).

Prof Franz Magnis Suseno menegaskan hidup dan aktivitas dalam lingkungan yang majemuk dengan sejuta keberagaman bukan sesuatu hal yang baru dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Namun, belakangan ini Indonesia kerap mengalami krisis toleransi.

Guru Besar STF Driyarkara itu mengemukakan bahwa tantangan hari ini dan masa depan Indonesia pada radikalisme dan polarisasi yang masif di berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia menambahkan bahwa Pancasila sebagai nilai, cita-cita, dan etika harus menjadi pedoman dalam berbagai aktivitas kita.

“Pancasila adalah hal yang pertama kali yang dituntut masyarakat kepada negara, karena Pancasila tidak sekadar dilafalkan tetapi harus diperjuangkan,” ujar Luky.

Di sisi lain, agar masyarakat yakin bahwa Indonesia bukan milik “mereka di atas,“  negara harus menunjukkan bahwa segenap manusia dari Sabang sampai Merauke dapat hidup secara terhormat, sejahtera, adil, dan bebas dari kemiskinan dan kelaparan.

Selain itu, tidak terjadi penggusuran-penggusuran kecuali ada kompensasi penuh, memberi harapan masa depan lebih baik kepada rakyat kecil serta keputusan-keputusan pengadilan dapat dirasakan sebagai adil.

“Pancasila mengajarkan kita untuk hormat terhadap kebebasan beragama dengan harapan kita harus menolak ideologi-ideologi yang menyangkal nilai bangsa, harus kebal terhadap hasutanhasutan populistik,” tegas Luky.

Sementara itu, Moh. Aan Anshori selaku Koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi menyampaikan bahwa keberagaman yang ada adalah kekayaan dan keindahan Bangsa Indonesia yang menjadi kekuatan untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional menuju Indonesia yang lebih baik lagi.

“Saya berharap generasi muda Katolik meyakini dirinya telah ditakdirkan untuk menjaga kebhinnekaan Indonesia. Slogan 100% Katolik, 100% Indonesia menegaskan itu. Hal ini berarti, mereka memiliki tugas untuk ikut serta memastikan generasi muda agama lain memiliki visi dan misi serupa,” katanya. (antara/nov)

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Arus Balik Lebaran 2025, Jalan Tol Palembang-Betung Gratis

BRIEF.ID - Jalan Tol Palembang-Betung seksi II Rengas-Pangkalan Balai...

Prabowo Melayat Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang di Katedral Jakarta

BRIEF.ID - Presiden Prabowo Subianto melayat ke Katedral Jakarta,...

Uni Eropa Sebut Kebijakan AS Dorong Kenaikan Harga

BRIEF.ID - Uni Eropa atau European Union (EU) merespons...

Menakar Dampak Tarif Impor 32% AS untuk Neraca Perdagangan Indonesia dan IHSG

BRIEF.ID - Pemberlakuan tarif impor terhadap 160 negara, yang...