BRIEF.ID – Lonjakan pasar Asia, secara berhasil menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk terbang tinggi. IHSG naik 1,93% ke level 7.184 hingga penutupan, yang didukung mayoritas sektor.
Lonjakan pasar Asia, terutama indeks Kospi Korea Selatan yang melesat lebih dari 8% memicu terjadinya sentimen positif di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Rabu (1/4/2026).
Selain itu, pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump serta data ekonomi kuat dari Korea Selatan dan Jepang menjadi katalis utama terjadinya reli di pasar regional.
Dilaporkan bahwa IHSG bertahan di zona hijau sampai usai perdagangan dan IHSG menanjak 136 poin atau naik 1,93% ke level 7.184. Sebanyak 307,8 juta lot saham tercatat sebagai volume perdagangan dan membukukan nilai transaksi sebesar Rp 16,03 triliun.
Saham-saham top gainers LQ45 tercatat BUMI, NCKL, INCO, BRPT, MDKA, ANTM, dan UNVR. Sedangkan saham-saham top losers LQ45, yaitu MEDC, ITMG, PTBA, HEAL, AADI, AKRA, dan ADRO.
Sektor kesehatan menjadi satu-satunya yang lesu setelah turun 0,20%, yang tercermin pada saham HEAL yang melorot 6,08% dan PRDA yang turun 4,44%.
Di sisi lain, indeks sektor saham industri menjadi jawara, yang naik 6,11% setelah didukung sahma-saham ACST yang menguat 0,93%, HEXA +0,69%, SMSM +0,57%, dan ADHI +0,51%.
Bursa Asia
Saham-saham di bursa Asia mengekor eforia pasar global pada perdagangan, hari Rabu (1/4/2026) sore. Harapan terjadinya de-eskalasi konflik AS – Iran memicu rebound terbesar di pasar saham regional dalam lebih dari tiga tahun.
Indeks saham Asia-Pasifik terluas MSCI di luar Jepang naik 4,7%, mengakhiri penurunan selama empat hari berturut-turut dan mencatat kenaikan satu hari terbesar sejak November 2022. Ini terjadi setelah Presiden Trump mengatakan AS dapat mengakhiri serangan militernya terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu mendatang.
“Mereka masih cukup jauh berbeda pendapat tentang apa arti gencatan senjata, atau apa arti perdamaian, tetapi pasar menerima kenyataan bahwa mereka sedang berbicara,” kata Rodrigo Catril, ahli strategi mata uang di National Australia Bank di Sydney, seperti diberitakan Reuters.
Reli itu mengabaikan laporan di The Wall Street Journal bahwa Persatuan Emirat Arab (PEA) diperkirakan akan memasuki konflik, dan sedang melobi Resolusi Dewan Keamanan PBB untuk mengizinkannya mengambil bagian dalam aksi militer untuk memaksa pembukaan Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio mengatakan, Washington harus meninjau kembali hubungannya dengan NATO setelah perang berakhir.
Pada perdagangan Rabu (1/4/2026), bursa Korsel menjadi motor kenaikan pasar saham Asia. Indeks Kospi Korsel melonjak signifikan. Data menunjukkan ekspor Korea Selatan pada bulan Maret melonjak 48,3% dari tahun sebelumnya, mengalahkan perkiraan jajak pendapat Reuters sebesar 44,9%.
Indeks manajer pembelian terpisah untuk Korea Selatan menunjukkan aktivitas pabrik negara itu berkembang dengan laju terkuat dalam lebih dari empat tahun pada bulan Maret, dipimpin oleh permintaan chip dan peluncuran produk baru.
Survei Tankan Bank Sentral Jepang pada Kuartal I – 2026 menunjukkan optimisme di kalangan produsen besar Jepang meningkat menjadi 17 dari 15. Angka tersebut melampaui ekspektasi 16 dari para ekonom yang disurvei oleh Reuters dan mencapai level tertinggi sejak kuartal keempat tahun 2021.
Sentimen bisnis perusahaan non-manufaktur besar berada di angka 36, tidak berubah dari kuartal sebelumnya dan di atas ekspektasi jajak pendapat Reuters sebesar 33.
Sementara itu, menurut survei yang dilakukan swasta, aktivitas manufaktur di Tiongkok mengalami perlambatan, pada bulan Februari 2026. PMI RatingDog tercatat di angka 50,8 pada bulan Februari, meleset dari perkiraan analis yang disurvei Reuters sebesar 51,6 dan melambat dari level tertinggi lebih dari 5 tahun di angka 52,1 pada bulan Februari.
Indeks Saham Asia dan Australia, yaitu Nikkei225 (Jepang) naik 5,24% ke 53.739; Topix (Jepang) naik 4,95% ke 3.670; dan Shanghai (Tiongkok) naik 1,46% ke 3.948; Shenzhen Composite (Tiongkok) naik 1,70% ke 13.706; CSI 300 (Tiongkok) naik 1,71% ke 4.526; Hang Seng (Hong Kong) naik 2,04% ke 25.294; indeks Kospi (Korsel) naik 8,44% ke 5.478; indeks Taiex (Taiwan) menguat 4,58% ke level 33.174; dan ASX200 (Australia) naik 2,24% ke 8.671.
Sementara itu, nilai tukar mata uang negara-negara Asia tercatat, Yen (Jepang) menguat 0,16% menjadi 158,47 per Dolar AS; SGD (Singapura) melaju 0,36% menjadi 1,2822 per Dolar AS; AUD (Australia) melemah 0,74% ke posisi 0,6951 per Dolar AS; Rupiah (Indonesia) naik 0,34% menjadi 16.983 per Dolar AS; Rupee (India) stagnan 0,00% ke 94,8112 per Dolar AS; Yuan (Tiongkok) melaju 0,30% ke 6,8736 per Dolar AS; Ringgit (Malaysia) naik 0,74% ke 4,0197 per Dolar AS; dan Baht (Thailand) melaju 0,32% ke 32,539 per Dolar AS.
Bursa Eropa Pulih
Bursa saham di Eropa dilaporkan memulai bulan perdagangan baru dengan pemulihan yang kuat, setelah mencatatkan bulan terburuk mereka sejak tahun 2022 pada bulan Maret 2026.
Tak lama setelah bel pembukaan, indeks regional Stoxx 600 menguat 2% lebih tinggi. Semua bursa utama Eropa dan sektor utama selain saham minyak dan gas diperdagangkan di zona hijau.
Indeks FTSE 100 di London Inggris naik 1,4%. Di bursa Jerman, Indeks DAX menguat +2,1% dan Indeks CAC 40 bertamab +1,90%.
Langkah-langkah ini diambil setelah Presiden Donald Trump mengatakan pada hari Selasa bahwa pasukan Amerika akan meninggalkan Iran dalam “dua atau tiga minggu,”. Trump menambahkan bahwa AS akan mengakhiri perang “baik kita memiliki kesepakatan atau tidak.”
Harga Minyak Turun
Harga minyak anjlok lebih dari 3% pada Rabu (1/4/2026) sore, membalikkan kenaikan sebelumnya karena volatilitas Timur Tengah yang terus-menerus membuat pasar gelisah. Bahkan di tengah laporan bahwa perang AS-Israel dengan Iran mungkin akan segera berakhir.
Minyak Brent turun US$ 3,33 atau 3,2% menjadi US$ 100,64 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun sebesar US$ 3,34 atau 3,3% menjadi US$ 98,04 per barel.
Harga naik pada Rabu (1/4/2026) pagi, kemudian turun karena ketidakpastian atas konflik di Timur Tengah mendorong investor untuk mengamankan keuntungan.
“Penurunan ini kemungkinan disebabkan jeda selama jam perdagangan Asia dengan aksi ambil untung di tengah sinyal dari AS bahwa perang mungkin akan segera berakhir,” kata Emril Jamil, analis senior di LSEG dikutip dari Reuters. (nov)


