BRIEF.ID – Dekarbonisasi adalah syarat mutlak bagi pertumbuhan industri penerbangan. Jika dunia masih ingin terus terbang, maka emisi harus ditekan secara signifikan.
Pandangan itu datang dari Doris Tan, General Manager Shell Aviation untuk kawasan Asia-Pasifik dan Timur Tengah.
“Bagi saya, pedoman utama untuk penerbangan sangat jelas: Kita harus melakukan dekarbonisasi agar dapat tumbuh, jika kita semua masih ingin terbang,” ujar Tan dikutip dari Business Times.
Penerbangan menyumbang sekitar 2,5 persen emisi energi global pada 2023, sementara industri menargetkan nol emisi bersih pada 2050, termasuk Shell.
Dalam konteks ini, Tan menilai bahwa sustainable aviation fuel (SAF) yang berasal dari minyak jelantah dan bahan baku terbarukan lain dinilai sebagai solusi paling realistis saat ini untuk menurunkan jejak karbon penerbangan.
Dilansir dari Business Times, Tan merupakan warga Singapura pertama yang menduduki posisi tersebut, menghadapi tantangan besar sejak awal masa jabatannya pada 2020, tepat saat pandemi Covid-19 melumpuhkan industri penerbangan.
Namun, alih-alih menjadi hambatan, periode tersebut dimanfaatkannya untuk menyusun ulang arah bisnis dan mempercepat agenda keberlanjutan Shell Aviation.
Di bawah kepemimpinannya, Shell meningkatkan fasilitas di Singapura sehingga mampu mencampur SAF, dan pada 2022 menjadi pemasok SAF pertama di negara tersebut.
Ekspansi berlanjut ke Hong Kong dan Dubai, serta ke berbagai maskapai dan perusahaan aviasi bisnis. Saat ini, Shell menyalurkan SAF di sekitar 80 titik di 18 negara.
Meski demikian, Tan menilai skala tersebut masih jauh dari memadai, terutama menghadapi lonjakan perjalanan udara yang diperkirakan terjadi di Asia. Rendahnya kepemilikan paspor di negara-negara seperti China dan India menunjukkan besarnya potensi pertumbuhan penerbangan di kawasan ini.
Tantangan utama SAF adalah biaya yang masih 2–5 kali lebih mahal dibanding bahan bakar jet konvensional serta keterbatasan pasokan bahan baku.
Shell sempat mengkaji produksi SAF di Pulau Bukom, namun proyek tersebut dibatalkan demi menjaga disiplin modal dan imbal hasil yang kompetitif.
Meski begitu, Shell tetap memosisikan diri sebagai pemain kunci melalui penguatan infrastruktur penyimpanan, pencampuran, dan distribusi di bandara.
Tan juga menyoroti pentingnya dukungan kebijakan pemerintah dan permintaan korporasi. Negara-negara seperti Singapura, Jepang, dan Malaysia mulai menerapkan mandat dan insentif SAF.
Shell mendorong skema “book-and-claim”, yang memungkinkan perusahaan membeli SAF untuk mengompensasi emisi perjalanan dan logistik mereka, meski bahan bakarnya digunakan di lokasi lain.
Melalui platform digital Avelia, Shell memfasilitasi skema ini dengan transparansi berbasis blockchain. Tan menilai langkah tersebut krusial untuk membangun permintaan, menarik investasi, dan mempercepat pengembangan infrastruktur SAF.
Dengan Asia diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan penerbangan dunia, Tan melihat transisi ini bukan sekadar tantangan, melainkan peluang strategis.
“Asia adalah masa depan penerbangan, dan saya antusias menjadi bagian dari transisi ini,” ujarnya. (ano)


